Gedebus dan teman-teman kecilnya Sebuah catatan, ulasan dan ideologi.

Showing posts with label Faith. Show all posts
Showing posts with label Faith. Show all posts
Hari Rabu yang lalu (21/9), saya jalan-jalan sebentar mampir ke salah satu toko buku yang ada di Kota Magelang. Sepertinya emang gak beres di toko buku ini, sudah jam 10 tapi rasanya aku jadi pengunjung pertama. Aku berkeliling ke sana ke mari kira-kira setengah jam. Barulah kemudian muncul beberapa orang mulai membolak-balik beberapa buku. Mata saya aku alihkan ke kanan dan ke kiri hingga menjumpai dua orang berpakaian rapi, berdasi dan bersepatu pantofel. Melihat nametag yang menempel di kantongnya, saya mengenali mereka sebagai Elder (penatua, misionaris) dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir.

Siapakah Elder itu?

Elder merupakan penatua jemaat Gereja Mormon atau di Indonesia dikenal sebagai Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. (Bisa dibaca di blog saya, sudah ditautkan.) Kedua Elder yang saya jumpai bernama Elder Mongan dari Tangerang dan Elder Townsend dari Idaho. Mereka berusia 19 tahun (dan sudah menjadi penatua!) Kami berbincang-bincang sejenak dan berakhir pada janjian untuk bertemu sore harinya.

Penasaran dengan kesaksian mereka tentang Yesus Kristus, saya pun mengunjungi gereja mereka. Saya pun mendapat sebuah Kitab Mormon sebelum mereka berdua menjelaskan tentang Mormon. Saya diajak berdoa, kemudian membuka Pengantar dari Kitab Mormon.

Kitab Mormon

Kitab Mormon adalah sejilid tulisan suci yang setara dengan Alkitab. Kitab itu merupakan catatan tentang urusan-urusan Allah dengan para penduduk kuno bangsa Amerika dan berisikan, sebagaimana halnya Alkitab, kegenapan Injil yang abadi. Peristiwa puncak yang tercatat di dalam Kitab Mormon adalah pelayanan pribadi Tuhan Yesus Kristus di antara bangsa tersebut tidak lama setelah kebangkitan-Nya. Peristiwa tersebut mencetuskan ajaran-ajaran Injil, menguraikan rencana keselamatan, serta memberitahu manusia apa yang harus mereka lakukan untuk memperoleh damai di dalam kehidupan ini dan keselamatan kekal di dalam kehidupan yang akan datang. Kitab tersebut ditulis oleh para nabi zaman dahulu melalui roh nubuat serta wahyu. Perkataan mereka ditulis di atas lemping-lemping emas. Pada saatnya lemping-lemping itu diserahkan kepada Joseph Smith, yang menerjemahkannya melalui karunia serta kuasa Allah. Catatan tersebut berdiri sebagai kesaksian baru bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah yang hidup dan bahwa semua orang yang mau datang kepada-Nya serta mematuhi hukum-hukum dan tata cara-tata cara Injil-Nya dapat diselamatkan.
(Dikutip dari ringkasan Pengantar Kitab Mormon yang tercantum di kartu identitas Gereja yang dibawa oleh para Elder.)

Tanpa menampik gagasan "setara dengan Alkitab", saya tertarik dengan apa isinya. Karena kebetulan saya tidak bisa menjumpai Elder yang ada di Yogyakarta waktu saya bertandang ke Gereja Mormon di Yogyakarta.

Dengan pengetahuan yang mereka ketahui tentang Yesus, Mormon dan Joseph Smith, kedua Elder itu bergantian memberikan kesaksian mereka tentang Kristen aliran Mormon yang beda dengan Kristen Protestan dan Kristen Ortodoks. Mengapa setara dengan Alkitab? Pertanyaan ini mereka jelaskan dengan sebuah pernyataan "melengkapi, menggenapi Injil dalam Alkitab". Oleh karenanya, catatan di bawah judul "Kitab Mormon" adalah : satu kesaksian lagi tentang Yesus Kristus.

Kitab Mormon berisi 16 kitab (1 di antaranya pengantar dari Mormon), yaitu:

  • Kitab Nefi Pertama
  • Kitab Nefi Kedua
  • Kitab Yakub
  • Kitab Enos
  • Kitab Yarom
  • Kitab Omni
  • Kata-kata Mormon
  • Kitab Mosia
  • Kitab Alma
  • Kitab Helaman
  • Kitab Nefi Ketiga
  • Kitab Nefi Keempat
  • Kitab Mormon
  • Kitab Eter
  • Kitab Moroni
Mudah-mudah, kelak saya bisa membahas kitab demi kitab di blog deuteronomi; walaupun saya tidak menganggap status keapokrifan kitab-kitab tersebut.

Masih Banyak Pertanyaan

Pertemuan saya dengan mereka tidak berlangsung lama karena saya ada kesibukan lain. Ada beberapa pertanyaan lain yang saya ingin tanyakan, tapi mungkin di Jogja saja. Kemudian mereka memberikan saya info kontak Elder (Sister) yang ada di Yogyakarta.

Sesungguhnya, tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya." Sebab ia wajib melepaskan seorang bagi mereka pada hari raya itu. Tetapi mereka berteriak bersama-sama: "Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!" [Lukas 23 : 15b - 18]

Siapa yang menyangka, bahwa Barabas pun memiliki kaitan yang erat dengan keluarga Yesus?

Mas Deni -kakak saya, menawarkan sebuah buku menarik yaitu Virgin Mary, Perawan Suci Maryam karangan Marek Halter. Walaupun merupakan roman, penulisan novel ini ditulis berdasarkan riset dari sumber asli yang penulis dapatkan dari seseorang bernama Maria di Warsawa. Tentu saja, bagian yang hilang menjadikan ide menarik tersendiri bagi seseorang untuk menuliskan imajinasinya terhadap karakter maupun hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Narasi - Virgin Mary, Perawan Suci Maryam

Joachim - Mary - Hannah
Bermula dari sebuah keluarga kecil yang terdiri dari sang ayah Joachim (Yoyakhim), sang ibu Hannah (Anna) dan si kecil Mary (Maria). Mereka tinggal dengan damai di Nazareth, kota kecil di sekitar danau Gennesaret (Galilea). Joachim bekerja sebagai tukang kayu di desanya, dia pun cukup terkenal oleh karena pekerjaannya itu. Pada waktu itu, tanah Israel berada di bawah penjajahan Romawi.

Secara periodik, serdadu Romawi sering berkunjung ke beberapa daerah termasuk Nazareth untuk menarik pajak. Akan tetapi, suatu hari menjadi tidak biasa bagi si kecil Mary. Desa diributkan oleh kehadiran sang pemberontak Barnabas. Mary menyaksikan sendiri bahwa Barnabas bersembunyi di dalam rumahnya. Untuk menyelamatkannya, Barnabas disembunyikan di sebuah ruangan rahasia yang terletak di salah satu sudut di dalam rumahnya. Inilah perkenalan pertama mereka yang bisa dibilang cukup berkesan.

Untuk kali ini, keluarga mereka tidak terlalu diributkan oleh para serdadu Romawi. Barnabas tidak dapat ditemukan. Masalah baru muncul setelahnya, ketika para serdadu itu menarik pajak di kota kecil Nazareth. Hulda, seorang tua yang tidak memiliki apa-apa menjadi objek rampasan serdadu-serdadu itu. Joachim yang dikenal sangat baik, dengan nekadnya membela nenek Hulda. Pembelaan yang menyebabkan pertumpahan darah ini berujung pada penangkapan Joachim.

Upaya menyelamatkan Joachim dilakukan oleh Mary. Saat ini, Mary hanya bisa bergantung pada teman barunya Barabas dan Abdias yang dikenalnya sebelum bertemu Barabas. Abdias adalah bocah pimpinan kaum Am-haretz (kaum yang dianggap hina oleh orang-orang Farisi). Perjuangan ini pun berhasil, Joachim pun bebas. Meskipun demikian, mereka tetap dihantui oleh pasukan-pasukan Herodes yang senantiasa mengejar mereka.

Barabbas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus
yang disalibkan.
Dari pengalaman-pengalaman yang terjadi di sekitarnya -penjajahan dan penindasan terhadap bangsanya, Mary menjadi seorang gadis yang berwatak keras. Terkadang, seringai keras dengan nada memberontak terucap dari mulutnya ketika melihat ketidakadilan menimpa bangsanya. Pertemuan dengan pemuda bernama Barnabas dan Abdias membuka pikiran dan mata hatinya akan penindasan bangsa Roma melalui Herodes terhadap bangsanya. Tak heran jika terkadang air mata mengalir dari mata si gadis kecil Mary melihat bangsanya dipukul bahkan disiksa hidup-hidup di hadapan matanya.

"Kita harus merencanakan pemberontakan. Seluruh bangsa Israel harus bersatu untuk mengusir penjajah."

Rencana pemberontakan pun dilakukan di rumah Yusuf, si tukang kayu yang sudah dianggap anak oleh Joachim. Joachim dan Yusuf berusaha mengundang beberapa orang, (termasuk) Joseph d'Arimatea (Yusuf Arimatea), Giora de Gamala, seseorang dari Zelot Galilea dan Nikodemus. Pembicaraan mereka mengalami jalan buntu, hingga berujung pada perpecahan. Akan tetapi, Joseph d'Arimatea yang merupakan tetua kaum Essene tertarik dengan pribadi Mary. Dia menyarankan Mary untuk pergi ke Magdala untuk belajar di sana.

Sesampainya di Magdala, Mary bertemu dengan janda bernama Rachel dan anaknya Maryam (yang nantinya dikenal sebagai Maria dari Magdala / Maria Magdalena). Di tempat ini, Mary belajar banyak mengenai ilmu filsafat. Pikiran Mary menjadi semakin tajam. Suatu hari, Barabbas menemuinya di dekat pelabuhan. Dia butuh bantuan Mary untuk mengantarkan Abdias ke Damas. Abdias terluka akibat serangan yang mereka lakukan terhadap tentara Herodes. Damas adalah tempat di mana biara kaum Essene berada. Di situlah Joseph d'Arimatea tinggal. Biara ini melayani pengobatan dan sudah banyak orang yang disembuhkan di sini.

Mereka pun berpamitan untuk segera berkuda menuju ke Damas. Hampir sampai di Beth Zabdai (lokasi biara), Abdias meninggal dunia akibat infeksi pada tubuhnya. Mary memiliki kenangan tersendiri bersama Abdias. Baginya, Abdias adalah sosok yang paling berharga dalam hidupnya sama seperti Barabbas, yang bersama-sama berjuang membebaskan ayah Mary maupun bangsa mereka. Selama beberapa waktu, Mary berkabung dalam kesedihan di depan makam Abdias.

Joseph d'Arimatea, tetua bruder-bruder Essene pun dengan sabar dan lembut memberikan pesan-pesan hangat kepada Mary. Dibantu Ruth -pelayan biara Essene, Joseph menangkan hati Mary yang dipenuhi dengan luka-luka batin dan kebencian. Mary pun kembali, kesedihan tidak membuatnya terlarut. Baginya, Abdias adalah suami kecil yang senantiasa menemaninya. Dia pun tinggal di biara untuk membantu Joseph sekaligus belajar ilmu pengobatan.

Suatu hari, Maryam datang dari Magdala dan memberitakan bahwa ibunya Hannah telah tiada. Suatu pukulan lagi bagi Mary. Namun kini Mary tidak terlarut dalam emosi. Joseph dan Ruth berhasil membuka pikirannya menuju kedewasaan. Bersama Maryam, dia pulang kembali ke Nazareth untuk berjumpa dengan ayahnya serta keluarganya di sana. Selain ibunya, didapati Halwa -istri Yusuf juga meninggal setelah melahirkan anak terakhirnya. Betapa pahit pengalaman yang harus dialami oleh Mary, dan itu yang membuat dia semakin tekun berdoa kepada Yahweh, sang khalik.

Tak berapa lama, Mary mulai bersikap aneh. Setiap malam, dia keluar entah kemana. Suatu ketika, dia berkata kepada ayahnya, "Aku mengandung." Ayahnya sempat marah kepadanya lantaran dia mengandung tanpa suami. Siapakah yang menodainya?


"Tak ada seorang pun yang menodaiku."

Mary mengandung sang Mesias.

Pada saat itu, Antipas putra Herodes memimpin bangsa itu. Diadakanlah sensus penduduk sehingga setiap orang harus kembali ke kampung halamannya untuk dicatat. Yusuf yang menerima Mary sebagai istrinya berangkat menuju Betlehem bersama dengan Ruth. [Novel berakhir di sini, selebihnya dunia telah mengetahui kisah hidupnya bersama Puteranya terkasih.]

Joseph d'Arimatea dan Nikodemus, menurunkan Yesus
dan mengobati-Nya (???)

Pada bagian belakang novel ini, tercantum terjemahan kitab apokrif "Kabar Gembira dari Maria". Kitab ini menceritakan kisah singkat Mary setelah Yesua (Yesus) lahir. Diceritakan beberapa mujizat yang Dia lakukan. Yang sedikit berbeda adalah, Yesua tidak mati di kayu salib. Dengan ramuan Joseph d'Arimatea, Yesua dibuat seolah-olah meninggal kemudian diturunkan untuk diobati secara diam-diam. Kemudian setelah tiga hari, Yesua pun tersadar dan kemudian dilarikan dari sana.

"Jika bukan di tiang salib, bagaimana ia meninggal?"
"Anda berbicara tentang siapa? Yesus-ku? Yesua-ku? Sudah kukatakan, ia meninggal di Auschwitz."

Opini

Cukup kontroversial bukan? Jangan ambil nilai-nilai mencengangkannya, tetapi nilai positif yang terkandung dalam karya sastra ini. Saya pribadi mengagumi sikap seorang biarawan Essene Joseph d'Arimatea. Entah mengapa, setiap perkataannya selalu bernilai dan mengandung makna yang dalam. Belum lagi Joseph d'Arimatea dikatakan penuh dengan karisma. Saya bahkan belajar memandang seorang wanita.

Kebaikan dan cinta yang kita simpan dalam hati tak selalu menuntut pertemuan untuk tetap ada. Bahkan untuk menerima kasih sayang sebagai balasannya. Hati kalian, para wanita, lebih luas dan lebih sederhana dari pada kami [kaum Essene, laki-laki]. Kalian tak perlu bersusah payah untuk mengharapkan kebaikan dari mereka yang kalian kasihi. Hal itu menjadikan kedudukan kalian mulia dan membuatku iri, meskipun posisi kalian adalah pelayan kami.

Begitulah cuplikan kata-kata Joseph d'Arimatea, tetua kaum Essene kepada Ruth, pelayan di biara mereka. Perlu diketahui bahwa Ruth sebelumnya merupakan istri dari Yosua yang kemudian menjadi bruder Essene dan meninggalkannya demi Tuhan. Selama beberapa waktu, Ruth merintih sedih karena hanya bisa melihat Yosua dari kejauhan tanpa mendapatkan balasan lirikan sedikitpun darinya. Air matanya seraya mengalir setiap hari di depan gerbang biara hingga Joseph d'Arimatea menemuinya dan berkata demikian. Dialah pria terbaik yang saya baca dalam novel ini, bahkan di akhir pembicaraan, dia berkata kepada Ruth:

Sepanjang hidupmu, Yosua-mu akan selalu mendampingimu.

Setelah itu, Ruth menjadi pelayan di sana hingga bertemu dengan Mary.

Pada tanggal 1 Mei 2010 yang lalu, saya menjalani masa Mistagogi, yaitu tahap akhir pembaptisan di mana kita diberitahui misteri Gereja Katolik. Dalam acara ini, saya dipersiapkan untuk menapaki dunia baru dalam Gereja termasuk pentingnya Ekaristi dalam hidup sebagai anak-anak Allah.

Sebagai kenang-kenangan baptis, Gereja memberikan dua buah buku yang berkaitan dengan Ekaristi. Yang pertama adalah buku Tata Perayaan Ekaristi, berwarna merah hati yang sudah sering saya jumpai. Yang kedua adalah buku karangan Henri J. M. Nouwen yang berjudul Life of the Beloved. Buku yang saya terima sudah diterjemahkan oleh Bapa Uskup Mgr. Ignatius Suharyo dengan judul baru: Diambil, Diberkati, Dipecah dan Dibagikan.


Henri J. M. Nouwen
Buku ini bisa saya katakan menarik. Mengapa? Dalam hidup orang beriman, Ekaristi menjadi puncak dari kehidupan rohani umat Kristiani. Ekaristi dilatarbelakangi oleh perjamuan terakhir yang diperkenalkan oleh Yesus Kristus sendiri. Dalam kehidupan Kristiani, peristiwa ini dikenangkan dalam sebuah sakramen di mana umat menerima roti yang telah diberkati dan dipecah-pecahkan.

Bermula dari pertemuan Nouwen dengan sahabatnya, istilah "Pribadi yang Dikasihi" menjadi satu hal yang bermakna dalam pikirannya. Muncul banyak sekali pertanyaan seputar hidup rohani, "Apakah saya adalah pribadi yang dikasihi?" Sebagai seorang pastur, Nouwen telah mengunjungi beberapa tempat termasuk penampungan orang-orang cacat. Dari sinilah, muncul suara Tuhan dalam pikirannya: kedamaian dan kebahagiaan yang akan diperoleh oleh seseorang adalah karena ia pribadi yang dikasihi. Sudahkah saya atau Anda menjadi pribadi yang dikasihi?

Dalam bahasa sederhana, Nouwen menyajikan "Ekaristi" dalam kehidupan dunia sekuler saat ini. Untuk menjadi pribadi yang dikasihi, Nouwen memperkenalkan spritualitas ini dalam empat bagian layaknya "Ekaristi" dalam kehidupan sehari-hari.

Diambil
Akan lebih tepat jika istilah diambil lebih dihayati sebagai dipilih. Bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih. Langkah pertama dalam hidup rohani adalah mengakui dengan sepenuh hati bahwa kita sudah diambil. Hal itu berarti ada sesuatu yang istimewa dalam pribadi kita. Nouwen bahkan menjelaskan secara teperinci dalam bagian ini. "Kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih oleh Allah, juga kalau dunia tidak memilih kita." Semangat inilah yang menjadi awal hidup rohani yang dimiliki oleh anak-anak Allah.

Diberkati
Setelah kita dipilih sebagai anak-anak Allah, kita juga diberkati. Berkat adalah hal istimewa dalam peneguhan iman kita. Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk, sehingga kita tidak merasakan berkat-berkat kecil di sekitar kita. Justru dengan bertemu orang cacat, kaum miskin dan difabel, berkat itu mengalir melalui mereka. Ada dua hal penting yang dapat kita lakukan agar kita merasa sebagai pribadi yang diberkati, yaitu doa dan kehadiran. Doa menjadi jalan bagi kita untuk mendengarkan kata-kata berkat, serta kehadiran adalah perhatian kita kepada berkat, setiap hari, setiap saat.

Dipecah-pecahkan
Tidak mudah bagi kita, -setelah diambil dan diberkati- kemudian dipecah-pecahkan. Menurut Nouwen, peristiwa ini melambangkan bahwa kehidupan kita harus dipecah-pecah atau dibentuk. Mungkin saya harus jatuh ke dalam jurang yang paling dalam atau mengalami keterpecahan dalam kehidupan kita, barulah kita mengenal solusi yang tepat untuk menghadapinya. Langkah pertama menuju penyembuhan bukanlah langkah menjauh dari penderitaan itu, melainkan langkah mendekatinya. Menyadari kompleksitas dalam kehidupan kita, seharusnya kita kagum akan misteri kehidupan kita.

Dibagi-bagikan
Setelah mengalami keterpecahan, maka kita siap untuk dibagi-bagikan. Yaitu, menjadi berkat bagi sesama kita. Dengan dibagi-bagikan, menjadi jelas bahwa kita dipilih, diberkati dan dipecah-pecahkan bukan untuk kita sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Akan menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi kita ketika kita bisa membuat orang lain bahagia.

Saya merasa bahwa hidup kita akan sia-sia jika kita hanya memikirkan pusat kehidupan kita hanyalah pada diri kita sendiri. Bahkan, peristiwa perjamuan malam terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama murid-muridnya pun memiliki arti tersendiri. Bagi saya pribadi, mengalami keempat hal ini adalah tantangan baru dalam kehidupan ini karena saya harus membuang seluruh idealisme yang berpusat kepada saya serta menerima kehidupan saya di tengah orang-orang lain. Mungkin, saya mendapatkan sedikit jawaban, mengapa saya harus hidup di dunia ini.

Life of the Beloved

Jika kasih memilih, ia memilih dengan kepekaan yang sempurna terhadap keindahan khusus dari yang dipilih, dan kasih memilih tanpa membuat yang lain merasa dikecualikan.

† Alleluya †
St. Bonaventura (1217 - 1274) adalah seorang teolog yang berasal dari Paris yang mengikuti pola spiritual St. Fransiskus Assisi. Berbeda dengan St. Fransiskus Assisi, dia adalah seorang yang terpelajar dari salah satu universitas besar di Paris pada abad pertengahan. Melihat kehidupan Fransiskus Assisi, banyak buku yang mencoba menuliskan perjalanan hidup dan kesaksian imannya. Termasuk Bonaventura, banyak sekali tulisan yang dia buat untuk mengenang seorang tokoh yang menjadi insiprasi hidupnya, Fransiskus. Akan tetapi, tidak banyak tulisan yang menuliskan tentang Bonaventura.

Bonaventura tergabung dalam Ordo Fransiskan ketika dia kuliah. Pada waktu itu banyak sekali pelajar serta keluarga yang masuk ke dalam ordo ini, baik sebagai biarawan-biarawati maupun ordo keluarga Fransiskan. Dia sangat terpikat dengan kehidupan sang Santo ini yang luar biasa, kehidupan mewah yang ditinggalkan demi kesederhanaan dan cintanya akan Yang Mahakuasa.

Semasa hidupnya di Paris, Bonaventura menghasilkan karya akademik dalam bidang teologi. Setelah terpilih menjabat Minister Jendral Ordo, tulisan-tulisan utamanya lebih bernuansa religius. Ketika menjabat sebagai Minister Jendral Ordo, para pengikut Fransiskus mengalami kesulitan dalam menghayati spiritualitas pendiri mereka. Ada ketegangan serius antara mereka yang memberikan interpretasi spiritual yang apokaliptik terhadap pesan Fransiskus dan mereka yang ingin menekankan ciri radikal dari gerakan Fransiskan yang membuatnya lebih seperti ordo-ordo yang sudah ada. Posisi Bonaventura sebagai minister jendral membawanya jauh terlibat dalam konflik ini, dan karena alasan inilah ia mengundurkan diri pada tahun 1259 dan hidup menyepi di Gunung Suci Fransiskan, La Verna, agar dapat lebih menyelami dunia spiritual sang pendiri.

La Verna terletak sekitar 60 mil sebelah utara Assisi. Pada tahun 1213, Count Roland dari Chiusi menghibahkan gunung tersebut kepada Fransiskus untuk tempat menyepi dan berdoa, seperti halnya dalam Kitab Suci di mana Yesus biasa pergi beristirahat ke gunung-gunung untuk berdoa. Ketika berdoa dalam bulan September 1224 di puncak La Verna, Fransiskus mengalami stigmata. Di tempat ini pulalah Bonaventura menyusun Itinerarium (Perjalanan Jiwa Menuju Allah), yang sekaligus merupakan awal pemikiran teologi dan sebagai model untuk semua karyanya di kemudian hari.

Meskipun sejarah hanya memberi sedikit perincian tentang kehidupan pribadi Bonaventura, namun tampak bahwa ia mendapatkan penghargaan yang besar dan perhatian dari orang-orang sezamannya. Dokumen sejarah cenderung menuliskan citra buruk semasa ia berperan sebagai Minister Jendral Ordo. Kepuitisan, kesenimanan, ketulusan dan keindahan serta kesalehan yang seringkali terpancar dalam berbagai karyanya meneguhkan Bonaventura sebagai orang yang seperti halnya Fransiskus, berusaha untuk hidup dalam kedamaian dan keselarasan dengan Allah, dengan umat manusia dan dengan seluruh dunia ciptaan Allah.
Agustinus dari Hippo, lahir pada tahun 354, adalah salah seorang teolog yang terpenting. Ia cendekiawan yang cemerlang dan penulis yang mahir. Petualangannya dari Manikheisme hingga Platonisme Kristen akhirnya membawanya pada suatu kerendahan hati intelektual yang menerima autoritas Kitab Suci dan mengakui keterbatasan akal budi. (Pengantar dari buku Agustinus, karangan Richard Price).

Yang awal saya pelajari dari buku ini adalah rumitnya pertentangan yang terjadi antara agama. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh sosial yang ditimbulkan oleh dominannya Gereja Katolik pada masa itu. Beberapa kelompok sosial muncul sebagai aksi protes terhadap otoritas gereja yang terlalu tinggi ditambah dengan intervensi politik kenegaraan.

Agustinus yang berasal dari Hippo (Aljazair) muncul sebagai kaum terpelajar. Walaupun sempat kecewa dengan ke-'irasional'-an gereja yang membawanya bergabung bersama kaum Manikheisme,  Agustinus kembali ke jalan di tempat yang semula harus dilaluinya. Dia diangkat menjadi uskup Hippo di kemudian hari. Dalam perjalanan hidupnya, dia tidak meninggalkan beberapa prinsip-prinsip Neoplatonik yang berkembang pada saat itu.

Bagaimanapun juga, belum pernah aku merasa berniat untuk menyimpang dari kekuasaan Kristus, sebab aku tidak menemukan sesuatu yang jauh lebih kuat. Namun, sehubungan dengan hal yang memang harus diuji dengan memakai akal budi secara cermat - sebab yang kudambakan bukan sekedar mempercayai apa yang benar melainkan juga memahaminya - maka aku pun merasa yakin bahwa aku akan menemukannya bersama kaum Platonis, dan hal itu tidak akan bertentangan dengan misteri-misteri kita yang suci. (Against the Academics 3.20.43)

Dalam perjalanan hidupnya, Agustinus menuliskan buku-buku filsafat tentang pengakuan-pengakuannya yaitu Confession yang terdiri dari beberapa kitab serta kota duniawi-surgawi City of God. Buku tersebut bahkan menjadi buku yang tidak ditinggalkan oleh umat Katolik sebagai pedoman. Pandangan-pandangan yang Agustinus tuangkan dalam buku-bukunya memang bersifat melegakan serta mengakui keterbatasan akal budi untuk memahami setiap karya Tuhan.

Tidak hanya melayani sebagai seorang uskup, Agustinus juga melakukan beberapa pembenaran Gereja Katolik yang dilanda krisis. Banyaknya paham tentang Roma - yang dulu dikenal sebagai negeri penjajah - yang lengkap dengan dewa-dewi sesembahannya; yang kemudian bertobat - ditandai dengan bertobatnya kaisar Konstantinus menjadi orang Kristen. Sampai-sampai Roma jatuh ke tangan orang-orang Goth, sehingga menimbulkan kekacauan dan kekhawatiran St. Hieronimus. Selain itu, Agustinus juga harus menghadapi kaum Donatis yang cukup bertentangan dengan Gereja Katolik pada waktu itu.

Dalam keseluruhan rentang permasalahan, mulai dari yang paling rumit (tentang Tritunggal) hingga yang paling duniawi (tentang seks dan perkawinan), para teolog dewasa ini mungkin tidak sependapat dengan Agustinus, tetapi mereka tidak dapat mengabaikan pemahaman Agustinus.

"Untuk memahami pengetahuan akan Tuhan, sama seperti memindahkan air laut ke dalam botol dengan menggunakan tempurung yang berlubang."
Thomas More (1477 - 1535) merupakan tokoh kontroversial dalam kehidupan dan kematiannya. Ia memulai karirnya sebagai seorang ahli hukum, anggota dewan, duan akhirnya menjabat sebagai Kanselir. More menentang tindakan raja Henry VIII untuk memisahkan diri dari Roma, dan akhirnya dihukum mati karena keyakinannya tersebut. karya besarnya Utopia merupakan salah satu contoh penting dari humanisme selama masa Renaisans. (Pengantar dari buku Thomas More, karangan Anne Murphy)

Baru setengah buku saya baca, saya ingin menuliskan beberapa hal yang menarik yang saya dapatkan dari salah seorang tokoh humanis; yang tidak banyak dikenal sebelumnya -namun kontroversial setelah saya mengetahuinya. Bagaimana tidak, salah seorang yang mempelajari tentang humanismenya pun sampai berkata, "Saya tidak bisa mengatakan apakah saya akan menyebutnya seorang bijaksana yang bodoh atau seorang bodoh yang bijaksana." (Edward Hall, Chronicler). Bagi saya, mungkin St. Thomas More seperti seorang Gus Dur di Indonesia.

Bermula dari keluarga yang kaya, Thomas More terlahir dari pasangan John dan Agnes, pada saat Raja Edward memerintah di Inggris. Kehidupan di tengah Inggris inilah yang menjadi latar belakang pendidikan More.

Selama hidupnya, More bekerja tidak jauh dari kerajaan. Bahkan hampir seluruh hidupnya, dia baktikan untuk gereja dan kerajaan Inggris. Beberapa pemikiran humanisme yang dia tulis, mengangkat posisinya hingga menjadi Kanselir Inggris; yang pada akhirnya berujung bentrok dengan sang Raja, Henry VIII yang melantiknya.

Salah satu pikiran kritis yang ia tulis, tercantum dalam buku The Best State of a Commonwealth and the New Island or Utopia. Terdiri dari dua buku, yang pertama berisi kritikan terhadap pemerintah Inggris yang sudah memasuki bentuk tirani (atau aristokrat yang bobrok); keinginan penguasa bahkan menyeleweng dari tindak sosial sekaligus menentang Paus. Sedangkan buku kedua berisi tentang fiksi yang menggambarkan sebuah negara yang ideal menurut More, yang disebut dengan Utopia.

Kesalehan dan keutamaan merupakan kata-kata yang tidak kita hargai saat ini. Namun bagi Erasmus, sahabat sekaligus tokoh humanisme dari Belanda, kesalehan berarti agama yang didasarkan pada kasih, dan keutamaan berarti kekuatan moral dari kesadaran manusia, yang dapat mengarahkan kita untuk memilih yang terbaik dalam kehidupan sehari-hari. Utopia, mengambil sebuah situasi negara dengan masyarakat yang mengutamakan keutamaan ini. Walaupun terkesan sangat ideal, namun memang banyak kejanggalan yang jelas menimbulkan kalimat: "Ah, itu tidak mungkin terjadi di dunia ini," dalam benak manusia. Tetapi, banyak pula orang yang membaca tulisannya itu, ingin melihat kenyataan sosial semacam itu di dunia nyata ini.

Walaupun bukan berasal dari golongan agamawan atau hirarki Gereja, melainkan sebagai seorang awam, pemikiran More tentang humanisme inilah yang mengubah sejarah pemerintahan Inggris. Dimulai dari sebuah kisah keluarga, bagaimana More menggambarkan keluarga bukan hanya terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak, melainkan juga pembantu serta pelayan keluarga. Mereka inilah keluarga, yang kemudian dilukis oleh seorang pelukis yang dekat dengan keluarga More. Kehangatan dalam keluarga ini yang nantinya digambarkan sebagai sekolah Plato mini.

Pembelaan terhadap kesucian perkawinan, serta penolakan atas keputusan Raja untuk menceraikan istrinya adalah alasan mengapa dia kemudian mati menjadi seorang martir. Yang dia pertahankan bukanlah soal pelanggaran yang dilakukan raja waktu itu, tetapi juga akibat keputusan Raja yang akan dirasakan nantinya. Di akhir hayatnya, dia tetap mempertahankan keputusnnya untuk tidak setuju dengan Raja walaupun putrinya telah berulang kali menyarankan More untuk menarik kata-katanya sebagai seorang Kanselir Kerajaan. More mati dipenggal kepalanya.

Kedisiplinan, tingkat ketelatenan, kedekatan dengan keluarga rumah tangganya, serta pikiran-pikiran humanisme More inilah yang menyebabkan namanya dikenang sepanjang masa. Bahkan, oleh Gereja Katolik, More diangkat menjadi salah satu orang kudus yang turut memperjuangkan kemanusiaan.

Qadosh, Qadosh, Qadosh, HaShem Tsevaoth, melo kol-ha-'arets Khevodo! [Kudus, kudus, kuduslah Sang Nama yang Mahakuasa, seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya!]

Pada mulanya, saya hanya membolak-balik buku. Di beberapa tempat, tampak ada inset yang berisi quotes, yang merupakan cuplikan kata-kata Maria Magdalena. Sekilas memang tampak menggoda. Bagaimana tidak? "... perempuan ini pun menanggalkan penutup kepalanya, ... menempelkan bibirnya ... memberikan ciuman ... " Begitulah kira-kira salah satu quote yang tertulis di halaman 38. Bukan hanya itu, judul tiap bab saja bisa menimbulkan beberapa reaksi, seperti Bab 2 : Ciuman Pertama.

Buku ini menceritakan bagaimana kisah Yesus menurut Maria Magdalena. Dimulai dengan latar belakang Maria yang berasal dari Magdala; kota yang banyak pelacur. Akibat dari julukan kota ini, Maria Magdalena -yang katanya bukan pelacur- akhirnya dijuluki sebagai pelacur. Pekerjaan Maria adalah pemain kinnor (kecapi), sebagai penghibur beberapa acara pada jaman itu.

Diceritakan pula, bagaimana dia harus berpisah dengan sahabat kecilnya Yohanes, yang bergabung dengan kelompok Esseni (semacam kelompok gnostik yang berkembang bersamaan dengan kaum Farisi dan Saduki). Kemudian, mereka berdua bertemu kembali pada saat Yohanes mengikuti Yesus sebagai gurunya.

Maria Magdalena adalah wanita pendosa. Dengan permainan kinnornya, ada saja hal gaib yang merasuki dirinya. Tujuh roh jahat pun ada dalam dirinya. Namun, dengan menyaksikan Yesus secara langsung, secara ajaib roh-roh itu diusir dari Maria Magdalena dengan seruan lembut Yesus, "Dosamu diampuni..."

Mulai dari saat itu, Maria Magdalena dan beberapa perempuan lain mengikuti Yesus dalam setiap perjalanannya. Arak-arakan musik mengiringi perjalanan Yesus, sebelum Yesus berkhotbah bersama para muridnya. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik pengabaran Injil oleh Yesus.

Di kemudian hari, Maria Magdalena menjadi istri dari Yohanes. Selain diangkat sebagai rasul wanita pertama, dia juga yang turut dikabarkan menerima wahyu dari Tuhan; yaitu pada saat Maria Magdalena dan Yohanes dibuang ke Patmos. Wahyu kepada Maria Magdalena inilah yang kemudian dicatat oleh Yohanes dan disertakan di akhir Kitab Suci.

Kisah pembelaan Maria Magdalena yang cukup fenomenal adalah bagaimana dia mempertahankan Keilahian Yesus di hadapan petinggi Roma. Secara ajaib, telur yang ia pegang berubah menjadi merah darah ketika Maria mewartakan iman bahwa Yesus bangkit. "Yesus bangkit!"

Pastur Lie Chung Yen mengumpulkan data-data seputar Maria Magdalena ini dari Alkitab dan beberapa kitab-kitab apokrif seperti Injil Maria Magdalena. Yang kemudian disajikan dengan bahasa gaul.

Bagi yang pingin mengerti bagaimana perjalanan Maria Magdalena sebagai rasul wanita, silakan baca buku ini. Dengan penyajian yang sederhana dan bahasa yang mudah dimengerti, tidak sulit bagi kita untuk mengerti kronologis perjalanan Maria Magdalena.
Minggu (3/10) lalu, saya mengikuti Ekaristi Anak di Gereja St. Antonius Kotabaru. Perayaan Ekaristi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenang salah seorang santo yang menjadi pelindung Marsudirini, yaitu Santo Fransiskus dari Assisi. Mulai dari petugas koor, pemain musiknya (biola, organ, kulintang, drum, pianika, xylophone), sampai pemain drama berasal dari SD Marsudirini.

Tampak Gereja dipenuhi dengan umat serta anak-anak. Pastur yang melayani kami adalah Rm. Didit, OFM. Jarang sekali pastur dari Fransiskan datang untuk mempersembahkan Ekaristi di Gereja Kotabaru ini (karena biasanya dari Yesuit).

Penampilan-penampilan dari SD Marsudirini disaksikan oleh umat di tengah-tengah perayaan Ekaristi berlangsung, yaitu pada saat lagu-lagu pujian dan sebelum homili. Salah satu penampilannya adalah drama singkat yang menceritakan kehidupan St. Fransiskus Assisi yang mencintai lingkungan.

Kisah Santo Fransiskus Assisi
(dikutip, disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya)

Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, "layanilah majikan dan bukannya pelayan."

Setelah itu Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, "Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh". Jadi, Fransiskus pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.

Pak Bernardone marah sekali! Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus. Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.

Pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empat puluh lima tahun Fransiskus meninggal dengan stigmata di tubuhnya.

Santo Fransiskus Assisi berkhotbah kepada burung-burung

Fransiskus dan pengikut-pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Lembah Spoleto dekat kota Bevagna. Tiba-tiba Fransiskus melihat serombongan besar burung-burung dari berbagai jenis. Di antaranya ada merpati, gagak dan jenis-jenis yang lain. Terpesona dengan pemandangan itu, Fransiskus meninggalkan teman-temannya di pinggir jalan dan berlari mengejar rombongan burung yang dengan sabar menunggu kedatangannya. Seperti biasa Fransiskus menyapa mereka, ia pikir burung-burung itu akan segera beterbangan di udara ketika ia menyapanya. Tetapi mereka semua tetap diam di tempatnya masing-masing.

Dipenuhi rasa kagum, Fransiskus bertanya apakah mereka mau tinggal sebentar bersamanya untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Katanya kepada mereka, "Saudara dan saudari burung, hendaklah kalian memuji Pencipta-mu dan mengasihi-Nya selalu. Ia memberimu bulu-bulu sebagai mantel, sayap untuk terbang dan memenuhi segala kebutuhanmu. Tuhan-lah yang menjadikan engkau mulia di antara segala makhluk, menjadikan udara yang halus bersih sebagai rumahmu. Tanpa menabur atau pun menuai, kalian memperoleh bimbingan dan perlindungan dari Tuhan."

Mendengar kata-katanya, burung-burung itu mengepak-ngepakan sayap mereka, menjulurkan leher mereka sambil memandang Fransiskus. Mereka bersukacita memuji Tuhan dengan cara yang demikian indah sesuai kodrat mereka. Kemudian Fransiskus berjalan di tengah-tengah burung-burung itu, berkeliling dan kembali, menyentuh kepala dan badan burung-burung itu dengan jubahnya. Kemudian ia memberkati mereka dan membuat tanda salib bagi mereka. Kemudian burung-burung itu beterbangan di udara dan Fransiskus dengan penuh sukacita berterima kasih kepada Tuhan, lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah kembali kepada teman-temannya, Fransiskus menggumam dengan keras mengapa selama ini ia tidak pernah berkhotbah kepada burung-burung. Maka, sejak saat itu, Fransiskus membiasakan diri untuk meminta kepada burung-burung, segala jenis binatang serta reptil untuk memuji dan mengasihi Pencipta-nya. Dalam hidup Fransiskus seringkali terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa di mana ia berbicara kepada binatang-binatang. Di antaranya, ketika St. Fransiskus menghardik serombongan burung yang berisik sehingga mengganggu upacara gereja! Yang mengherankan, burung-burung itu kemudian tinggal tenang sampai Fransiskus menyelesaikan khotbahnya.

Santo Fransiskus Assisi, kelinci dan ikan

Suatu hari seorang rahib membawa seekor kelinci yang terjebak perangkap kepada St. Fransiskus. Ia menasehati kelinci agar lebih berhati-hati di waktu yang akan datang, kemudian dikeluarkannya kelinci dari dalam perangkap dan diletakkannya di atas tanah supaya ia pergi. Tetapi kelinci itu kembali dan melompat ke atas pangkuan Fransiskus, berharap agar ia boleh tinggal di dekatnya. Fransiskus membawa kelinci itu ke sebuah hutan dan melepaskannya kembali. Tetapi kelinci itu kembali lagi ke tempat di mana Fransiskus duduk dan melompat ke atas pangkuannya lagi! Akhirnya Fransiskus meminta salah seorang rahibnya untuk membawa kelinci masuk ke dalam hutan dan melepaskannya. Kali ini usahanya berhasil. Hal-hal seperti ini terjadi berkali-kali dalam hidup Fransiskus - di mana ia melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk memuji kemuliaan Tuhan. Jika seekor makhluk yang begitu sederhana dapat begitu dilimpahi oleh keajaiban Tuhan, alangkah terlebih lagi manusia!

Ikan-ikan juga patuh pada Fransiskus. Setiap kali seekor ikan tertangkap dan Fransiskus berada di sekitar tempat itu, ia akan melepaskan ikan itu kembali ke air sambil memperingatkannya agar berhati-hati supaya tidak tertangkap lagi. Sering terjadi, ikan akan tinggal di sekitar perahu Fransiskus untuk mendengarkannya berkhotbah sampai Fransiskus mengijinkannya untuk pergi. Barulah mereka berenang pergi. Di setiap karya ciptaan, demikianlah St. Fransiskus menyebut semua makhluk hidup, ia akan memuji sang seniman, yaitu Sang Pencipta yang terkasih.

Santo Fransiskus Assisi dan serigala

Barangkali kisah St. Fransiskus yang paling terkenal adalah kisahnya menjinakkan serigala yang meneror rakyat kota Gubbio. Ketika Fransiskus tinggal di kota itu ia mendapati ada seekor serigala yang sangat ganas. Ia tidak saja memburu dan memangsa binatang, tetapi juga manusia. Rakyat kota itu mengangkat senjata untuk membinasakannya, tetapi mereka yang pergi menghadapi serigala itu lenyap oleh taring-taringnya yang tajam. Maka penduduk menjadi sangat takut dan tidak berani keluar dari tembok kota.

Frasnsiskus merasa iba kepada penduduk kota dan memutuskan untuk pergi menemui serigala. Penduduk mencegahnya dengan sangat, tetapi Fransiskus bersikeras bahwa Tuhan akan menjaganya. Seorang rahib yang pemberani dan beberapa petani menemani Fransiskus sampai ke gerbang luar kota. Tetapi segera saja petani-petani itu merasa gentar dan tidak berani melanjutkan perjalanan.

Fransiskus dan rahibnya mulai berjalan. Tiba-tiba serigala, dengan rahangnya ternganga, muncul dari hutan dan datang menyerang kedua biarawan itu. Fransiskus membuat Tanda Salib ke arah serigala. Dengan kuasa Tuhan, serigala itu segera memperlambat larinya dan mengatupkan rahangnya. Kemudian Fransiskus berteriak: "Datanglah kepadaku, Saudara Serigala. Dalam nama Yesus, aku memerintahkan kamu untuk tidak lagi menyakiti siapa pun." Maka pada saat itu juga serigala menundukkan kepalanya dan datang berbaring di bawah kaki St. Fransiskus. Serigala itu menjadi jinak seperti seekor anak domba.

St. Fransiskus menjelaskan kepada serigala bahwa serigala telah menakutkan penduduk kota, karena ia tidak saja memangsa binatang, tetapi juga manusia yang diciptakan seturut gambaran Allah. "Saudara Serigala," kata Fransiskus, "aku ingin mengadakan perdamaian antara kamu dan penduduk Gubbio. Mereka tidak akan menyakiti kamu dan kamu juga tidak boleh lagi menyakiti mereka. Semua kejahatan di masa lampau harap dimaafkan."

Serigala menyatakan persetujuannya dengan menggoyang-goyangkan badannya dan menggangguk-anggukkan kepalanya. Dan puncak dari peristiwa yang menakjubkan itu, Fransiskus meminta serigala untuk membuat janji. Sementara Fransiskus mengulurkan tangannya untuk menerima janji, serigala mengulurkan kaki depannya dan meletakkannya di atas tangan orang kudus itu. Kemudian, Fransiskus memerintahkan serigala untuk mengikutinya masuk ke dalam kota untuk mengadakan perjanjian damai dengan penduduk kota. Maka tanpa melawan sedikit pun serigala mengikuti St. Fransiskus.

Ketika mereka tiba di alun-alun kota, semua orang datang untuk menyaksikan peristiwa yang ajaib itu. Dengan serigala di sisinya, Fransiskus berkhotbah kepada penduduk kota mengenai cinta kasih Tuhan yang luar biasa serta ajaib, yang memanggil mereka semua untuk bertobat dari semua dosa-dosa mereka. Kemudian atas nama serigala, Fransiskus menawarkan perdamaian kepada penduduk kota. Penduduk berjanji dengan suara lantang bahwa mereka akan menyediakan makanan bagi serigala. Kemudian Fransiskus bertanya kepada serigala apakah ia mau hidup berdamai dengan syarat-syarat tersebut. Serigala menundukkan kepalanya dalam-dalam dan merenggangkan badannya untuk meyakinkan semua orang bahwa ia menerima janji itu. Kemudian sekali lagi serigala meletakkan tangannya di atas tangan Fransiskus sebagai tanda ikatan perjanjian.

Sejak saat itu penduduk kota menepati janji yang mereka buat. Serigala tinggal selama dua tahun lamanya di antara penduduk kota, pergi dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta makanan. Serigala tidak menyakiti siapa pun dan tak seorang pun menyakitinya. Bahkan anjing-anjing pun tidak menyalak kepadanya. Ketika akhirnya serigala mati karena telah tua umurnya, sangat sedihlah penduduk kota Gubbio. Cara hidup serigala yang penuh damai menjadi peringatan bagi mereka akan pengaruh, kesabaran, keteladanan dan kekudusan St. Fransiskus yang menjadi simbol nyata kekuasaan dan pemeliharaan Tuhan Allah yang hidup.

23 Juni 2010,
Pada awalnya, saya search di google mengenai "Gereja" dan saya mendapatkan beberapa link yang cukup menarik. Hanya saja, saya tertarik untuk membaca artikel mengenai aliran pengikut setan yang ada di Bandung. Bukan karena saya pengikutnya atau tertarik dengan aliran semacam itu, saya cuma pingin tahu kebenaran dari artikel tersebut. Bangunan yang katanya bangunan pengikut setan itu berada di tengah perumahan dengan ciri khas gurita raksasa di atap bangunan. Tidak banyak yang mengerti dengan jelas fungsi dari bangunan ini di masa kini, selain kabar angin yang beredar.

Forum ini mendiskusikan tentang aktivitas aliran pengikut setan dan gedung yang dipakai. Gedung ini terletak di jalan Sukadamai, dekat Hotel Aquilla Grand Bandung. Memang sangat aneh, karena tidak ada akses jalan langsung untuk masuk ke gedung gurita tersebut. Ada dua rumah yang mencurigakan yang diduga merupakan akses menuju ke gedung yang merupakan bekas tempat judi atau kasino di tahun 80-an.

Simpang siur kabar mengenai gedung ini juga masih belum jelas. Beberapa info dan kesaksian yang saya baca bisa merupakan hoax yang tentu tidak dapat dijadikan bukti. Apalagi praktek satanisme yang dibicarakan di sana, apakah benar-benar terjadi di sini?

Jika ingin melihat foto-foto tentang gedung ini, bisa dibuka di blog Racuners di sini.
Informasi lain tentang aliran pengikut setan di Bandung bisa dibuka di blog Speciallone di sini.

Beberapa cerita yang pernah saya dengar, maupun saya baca dari majalah kerohanian, munculnya aliran pengikut setan di Indonesia juga bukan hal yang baru. Hal ini sudah terjadi sekian lama. Mereka menyusup dan memperluas diri dengan menjaring jemaat-jemaat baru.

Beberapa ciri perekrutan anggota baru:
  • Yang sangat umum adalah menggunakan alat tajam yang tersembunyi di balik cincin. Ketika bersalaman, maka darah yang sengaja tertumpah itu dijadikan media untuk menghipnotis.
  • Biasanya mereka ngajak makan di restoran yang mahal, katanya pajak restoran bisa mencapai 21%.
Ketika saya ke Jakarta, saya sempat mendengar kabar dari saudara saya mengenai aliran pengikut setan yang ada di salah satu daerah. Bangunannya aneh (katanya mirip rumah-rumah Bali) yang tertutup. Dan ketika saya membaca lagi, tidak sedikit bangunan aliran pengikut setan yang aneh bahkan sampai ada bangunan yang tidak ada pintunya sama sekali. Entah bagaimana mereka masuk, beribadah dan melakukan ritual satanisme mereka secara rahasia.

Bagi kita semua, hati-hatilah terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Barangkali itu adalah jerat yang tidak kelihatan.

Kapan-kapan saya pingin cari tahu ah....


Tambahan (9 September 2010): Berhubung ada yang kurang setuju menggunakan istilah "gereja" setan (padahal sepertinya sudah sangat umum, ya -setahu saya ^^), akhirnya saya menggunakan istilah "aliran pengikut" setan.
Siapa yang belum mengenal Injil dan Perjanjian Baru? Siapa pula yang belum mengenal sosok Yesus, yang oleh penganut agama Kristiani disebut sebagai Tuhan dan (atau) Juruselamat?

Perjanjian Baru adalah bukti tertulis dari segelumit perjalanan hidup sosok Yesus yang kemudian dikenal sebagai Kristus. Yesus yang kelahirannya sangat fenomenal ini menjadi peletak dasar agama Kristen dan Katolik. Agama Kristen - Katolik merupakan agama buku, yaitu setiap perjalanan dan ajaran-ajaran dituliskan dalam kitab yang kemudian disebarluaskan.

Jika dicermati, Yesus tidak memilih para murid yang terpelajar. Bahkan sangat mungkin mereka tidak bisa membaca dan menulis. Perhatikan saja bahwa penulis-penulis Injil tidak semuanya merupakan murid langsung dari Yesus.

Pekerjaan menulis ini kemudian diserahkan kepada murid dari murid Yesus yang telah mendengarkan ajaran dan kisah hidup yang diceritakan sebelumnya. Injil resmi tertua yang ditemukan adalah Injil Markus yang ditulis sekitar tahun 30 - 50 Masehi, tentu setelah Yesus bangkit. Beberapa rangkaian cerita dalam injil sinoptik ini sangat mungkin terjadi penambahan atau pengurangan di luar fakta yang terjadi dalam kehidupan Yesus.

Bart D. Ehrman, sang penulis buku ini adalah orang yang sangat ahli di bidangnya. Bermula dari remaja Kristen yang kemudian memasuki dunia Alkitab yang sudah dia kenal sebelumnya. Menurutnya, dengan membaca dan menerjemahkan kitab yang asli (berbahasa Yunani dan Ibrani) lebih bermakna ketimbang membaca terjemahannya. Beberapa penyimpangan terjadi dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa lain.

Saya juga ingin mendapatkan naskah asli dan mempelajarinya seperti apa yang Ehrman lakukan. Hanya saja, saya belum memiliki pengetahuan seluas itu. Yang kini bisa saya lakukan hanyalah membaca beberapa literatur yang bisa saya dapatkan baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Tulisan-tulisan inilah yang saya anggap sangat berharga, karena merupakan suatu bukti perjalanan tokoh terbesar sepanjang masa.
Dalam ciumannya, Yudas "mengkhianati" Yesus -Sang Guru- dan kemudian menyerahkan Yesus kepada tentara Romawi.

Uang darah yang ia terima dari pimpinan Roma, seakan-akan menjadikan kutuk bagi dia. Sampai akhirnya Yudas Iskariot mati tergantung atau dengan usus yang keluar terjuntai panjang.

Tidak ada orang yang tahu tentang pengertian yang "benar" mengenai sosok Yudas. Beberapa meyakini bahwa Yudas adalah salah satu tokoh yang sangat penting dalam peristiwa penyelamatan. Jika memang itu benar, Yudas bisa saja menjadi pahlawan yang membuka jalan peristiwa penyaliban -yang berarti pemisahan Roh Agung Yesus dari tubuh manusia untuk turun ke dalam alam maut dan membebaskan roh-roh yang terjerat iblis.

Oleh sebab itu, muncul beberapa keyakinan yang mendukung tindakan Yudas, sampai muncul agama Yudaisme maupun Judas Priest -yang dibilang sesat.

Baru saja membaca prakata, saya mulai tergugah dengan misteri kebenaran yang tak terungkapkan. Dalam Ibrani 11:1, di situ tertulis "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita." Dan dengan iman, saya meyakini peristiwa ilahi yang Yesus kerjakan merupakan sebagian dari pengetahuan gnostik dari sekian peristiwa ajaib lainnya.

Dalam Injil Yudas (yang disunting oleh Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, Gregor Wurst), Yudas ditampilkan sebagai sosok lain. Jika dalam keempat Injil resmi (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), Yudas ditampilkan sebagai sosok pengkhianat yang tega menyerahkan gurunya kepada Romawi. Dalam kitab ini, Yudas merupakan saksi dari peristiwa agung yang akan terjadi. Bisa dibilang, Yudas adalah sahabat terdekat Yesus, yang setia menerima setiap perkataan Yesus.

Pengetahuan akan Yesus tidak diketahui oleh keduabelas murid Yesus. Akan tetapi, hanya Yudas lah yang berani bersaksi, "Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan saya tak pantas untuk mengucapkan nama Dia yang telah mengutusmu." (Injil Yudas, halaman 8).

Meski demikian, ada beberapa bagian yang saya rasa baru, yaitu bagaimana pengutusan Yudas secara langsung oleh Yesus untuk mengkhianati Yesus sendiri. (Suatu konspirasi yang misteri hingga sekarang). Untuk itulah, bisa dikatakan Yudas menjadi salah satu tokoh yang berjasa dalam peristiwa agung yang Yesus kerjakan.

Dalam kitab ini, Yesus lebih digambarkan sebagai seorang guru yang memberitahukan hal-hal gaib kepada para murid-muridnya. Sebagai contoh, setiap manusia sudah memiliki bintang-bintangnya sendiri. Bintang-bintang tersebut yang mengarahkan manusia pada jalannya masing-masing. Bintang Yudas konon dikatakan Yesus sebagai bintang yang terbesar, yang memiliki kekuatan tersendiri.

Beberapa baris dalam kitab asli yang ditemukan di Mesir telah hilang, bisa saja karena tinta yang habis atau karena ada halaman yang sudah terkoyak hingga beberapa baris. Akan tetapi, tim penerjemah Injil Yudas dari Kodeks Tchacos berusaha memberikan intepretasi yang masuk akal dalam catatan kaki di bawah teks Injil Yudas. Beberapa bagian tampak membosankan, tetapi bagi mereka yang tertarik pasti mampu membayangkan kira-kira apakah isi dari bagian yang hilang tersebut.

Sangat menarik, penemuan injil-injil yang apokrif ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan pengetahuan. Tapi, siapkan iman yang kuat sebelum membaca karya yang diperkirakan berasal dari abad kedua ini.


Saya mau baca lagi ah....

Sumber gambar:
http://dancewithshadows.com
http://www.utoronto.ca
http://www.slate.com
author
Yacob Ivan
Indonesian, Mathematician, Business Analyst, Android Developer, History-traveller | http://www.yacob-ivan.com