Gedebus dan teman-teman kecilnya Sebuah catatan, ulasan dan ideologi.

Showing posts with label Culinary. Show all posts
Showing posts with label Culinary. Show all posts
Siapa bilang menikmati Sushi harus merogoh kocek mahal?
Salah satunya adalah di Sushi Kaki Lima, yang terletak di depan kampus Universitas Sanata Dharma Mrican dan di daerah Babarsari.



Yogyakarta memang dikenal sebagai kota pelajar. Selain itu, Jogja juga menjadi tempat wisata kuliner unik dan tentu saja dengan harga yang terjangkau. Apa yang terjadi apabila kedua unsur tersebut bersatu padu dalam salah satu kedai ala Jepang? Dengan harga yang bersahabat dengan pelajar, serta memberikan nuansa unik dalam dunia perkulineran; Sushi Kaki Lima menawarkan aneka macam Sushi mulai dari lima ribuan hingga dua puluh ribuan. Tak heran, kenapa kedai ini makin lama makin diminati sejak pertama kali dibuka tahun ini.

Sushi yang dijajakan di sini tentu sudah terpengaruh dengan rasa Jawa. Meskipun demikian, bahan-bahan utama penyusun sushi tidak terlupakan termasuk cara pembuatannya yang unik. Sebagai teman makan, pelanggan diberi segelas Ocha (teh hijau Jepang) secara gratis tiap membeli satu porsi sushi yang berisi 6 rol. Untuk memanjakan lidah, menikmati sushi bisa ditemani dengan kecap asin atau 'sambel' wasabi.

Bagaimana? Anda ingin mencoba?
Melanjutkan petualangan berburu soto di Episode 1, saya pun menemukan soto-soto yang makin unik aja. Semua soto ini masih ada di Yogyakarta tercinta. Jadi bagi pelajar kota Jogja yang kepingin menjajal kuliner di seluruh Indonesia, tidak perlu jauh-jauh pergi ke propinsi tujuan. Hampir semua ada di Jogja.

Soto khas Boyolali
Mungkin saya masih ragu menamakan ini khas dari Boyolali, namun ada beberapa teman yang menyebutkan bahwa soto daging sapi ini memang dari Boyolali dengan pemilik yang berbeda tentunya. Apakah karena hewan yang terkenal dari Boyolali adalah sapi? Kan, sapinya sapi perah, bukan sapi daging. Tidak-tidak-tidak, malah ngomongin yang gak relevan. Baiklah, kalau mau mencicipi soto sapi Boyolali, Anda bisa mencoba SOTO NDELIK CABANG BOYOLALI, yang terletak di Seturan (di dekat pom bensin). Satu porsi soto bisa diperoleh dengan harga Rp5.000,00.


Soto khas Banjar
Baru pertama kali ini saya mencicipi soto khas Banjar, dan ternyata enak sekali! Berarti yang dikatakan temenku KKN itu nggak salah, soto khas tempat asalnya benar-benar maknyuss! Yang membuat soto ini khas adalah kuah santan yang beraroma pala. Pertama kali mencoba, saya teringat akan salah satu mi instan yang menyajikan rasa soto Banjar. (Eh, Banjar itu Kalimantan Selatan yak?) Jika ingin mencicipi soto khas Banjar, Anda bisa mencobanya di Warung Soto Banjar yang terletak di Kotabaru, di seberang jalan Gereja St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Satu porsi soto bisa diperoleh dengan harga Rp7.000,00.




Coto Makassar
Namanya agak sedikit berbeda, namun mungkin ini adalah salah satu jenis soto yang berasal dari Sulawesi Selatan. Yang membuat unik dari Coto Makassar adalah kuah santan berwarna cokelat yang tentu lain dari yang lain. Tidak seperti soto yang lain, coto Makassar hanya berisi daging sapi saja. Nikmat lemak sapi terasa sampai ke dalam-dalamnya. Kenikmatan Coto Makassar bisa dicicipi di Warung Coto Makassar yang terletak di asrama mahasiswa Sulawesi Selatan "Bawakaraeng" Kotabaru, tidak jauh dari Warung Soto Banjar. Cukup ikuti jalan kecil di samping Gedung Widya Mandala. Satu porsi Coto Makassar bisa diperoleh dengan harga Rp8.000,00. Tapi Anda kudu merogoh kocek ekstra Rp500,00 per ketupat, agar sajian di mangkuk Anda terasa lebih lengkap.




Soto Kuburan
Memang terkesan mistis, tapi jangan ditanya: Soto Ayam Pak Man yang lebih dikenal dengan Soto Kuburan rasanya tidak pernah sepi. Bukan karena pengunjungnya "bukan manusia" lho, semuanya manusia. Soto Kuburan memiliki komposisi yang hampir sama dengan soto-soto konvensional lainnya, namun ditambah dengan perkedel ubi dan tempe bacem. Untuk mencicipi kuliner mistis ini, Anda bisa temukan Soto Ayam Pak Man, yang memang berada di depan kompleks pemakaman di daerah Sagan (tidak jauh dari Galeria Mall). Satu porsi soto ayam ini bisa diperoleh dengan harga Rp5.000,00.




Baiklah, untuk sementara ini saya menambahkan empat warung soto maknyuss yang ada di Jogja. Di lain kesempatan, saya masih berharap menambahkan warung-warung soto atau jelajah kuliner yang lain.


Salam Au Revoir!
Jogja memang layak disebut sebagai Indonesia mini. Selain karena beraneka ragam suku dan budaya berada di kota ini, jajanan kuliner nusantara pun bisa ditemui di sini. Salah satunya soto, salah satu kuliner nusantara warisan budaya bangsa. Komposisi soto pun cukup beragam, tergantung tradisi masing-masing kota asalnya. Akan tetapi, umumnya soto terdiri dari nasi, bihun, sayuran (taoge, kubis, seledri), lauk pauk (tahu, daging) dan kuah. Berikut ini adalah laporan jalan-jalan yang saya lakukan untuk menikmati soto.

Soto khas Jogja
Ada yang bilang soto macam ini adalah khas Semarang. Akan tetapi, menurut saya ada perbedaan dari cara penyajiannya. Soto khas Jogja itu menggunakan mangkok cap Jago, serta komposisi soto ditambah dengan wortel yang diiris kecil-kecil. Selain itu soto khas Jogja ditemani oleh keripik tempe yang garing serta sate jeroan ayam. Salah satu warung yang menyediakan soto khas Jogja adalah SOTO HOLLYWOOD yang terletak di Jalan Kaliurang km 14. Satu porsi soto bisa diperoleh dengan harga Rp4.000,00.


Alternatif warung lain yang menyediakan soto khas Jogja adalah Soto Pak Nanto yang terletak di daerah Pogung Kidul, di tepi selokan mataram.

Soto khas Suroboyo
Selain karena kuahnya yang lebih kental dan berwarna kuning, soto ala Suroboyo dilengkapi dengan bumbu tambahan yang dikenal sebagai koya. Komposisi dari soto ini pun agak berbeda. Di SOTO SUROBOYOAN NING DEWI, pembeli bisa memesan telur rebus sebagai tambahan. Satu porsi soto bisa diperoleh dengan harga Rp5.000,00. Warung Soto Ning Dewi terletak di Seturan (depan STIE-YKPN) dan di Jalan Kaliurang km 5 (sebelah utara Apotek Kentungan).


Soto khas Lamongan
Soto khas Lamongan hampir mirip dengan khas Suroboyoan, ada koya sebagai salah satu bumbunya. Yah, mungkin karena mereka bertetangga dekat. Menurut yang saya jelajahi, soto khas Lamongan juga menyediakan daging sapi. Salah satu warung yang menyediakan soto khas Lamongan adalah SOTO LAMONGAN CAK PARNO yang terletak di daerah UNY (di dekat lapangan baseball UGM). Satu porsi soto bisa diperoleh dengan harga Rp6.500,00.


Sebagai alternatif, warung lain yang menyediakan soto khas Lamongan ada di Pasar Demangan yang buka pada malam hari.

Soto khas Kudus
Siapa yang tak kenal soto khas Kudus? Keunikan dari soto ini adalah porsinya yang mungil, serta gurihnya kuah soto yang dicampur dengan bawang goreng. Kalau saya makan soto Kudus, tentu tidak cukup satu porsi; eh, paling tidak dua porsi. Biasanya, di warung-warung makan soto kudus terdapat pikulan yang dipakai untuk meletakkan kuah dan bumbu soto. Mungkin dulu soto kudus dijual dengan cara dipikul. Salah satu warung yang menyediakan soto khas Kudus adalah SOTO KUDUS PAK DEWO yang terletak di Jl. C. Simanjuntak 62 (di selatan Mirota Kampus).


Warung lain yang menyajikan soto Kudus adalah Soto Menara Kudus (Condongcatur).

Sudah lama saya nggak nulis artikel kulineran. Alasannya sederhana: Jogja ini sungguh ramai dan ketat persaingan. Beberapa tempat yang saya pasang di blog kini sudah tinggal nama. Ehem, TINGGAL ARTIKEL SAJA. Tapi mudah-mudahan bukan karena artikel ini, trus warung-warung itu pada tutup. Seusai pulang dari Grebeg Jogja #3, saya pun menghabiskan sore di Lincak Cafe.

Lincak Cafe ini terletak di tepi Selokan Mataram antara Pringwulung dan Outlet Biru. Menurut slogannya, cafe ini lebih utamanya menyediakan hotspot, bukan makanan. Jadi tempat ini mungkin lebih cocok untuk nongkrong, autis bersama laptop, atau bincang bisnis sambil santai. Jelas santai, karena bisa sambil pesan beberapa makanan dan minuman 'khas' Lincak Cafe.

Apa aja yang disajikan di sini?
Bawang bombay goreng.
Karena menu utamanya adalah paket internet hotspot, maka paketan hotspot bisa dinikmati dengan harga Rp3.000,00 hingga Rp150.000,00 sesuai dengan paket yang diinginkan. Makanan yang disajikan bukan masakan khas dari negara atau propinsi khas. Contohnya: nasi goreng, bakmi goreng, kentang goreng, bawang bombay goreng, dan lain-lain. Kalo minumannya ada beragam: macam-macam teh, macam-macam kopi, macam-macam jus, macam-macam cokelat dan lain sebagainya. Saya cukup memesan Milk Tea, kalau Irin memesan Hot Chocolate Cheese. Kemudian sebagai camilan, kami pesan bawang bombay goreng alias Onion Rings.


...su ge na g ra ha wuh
Melihat daftar menunya, saya jadi tertarik dengan Aksara Jawa yang tercantum di daftar menu. Coba, ada yang bisa baca nggak? Mungkin itu maunya berarti: Sugeng Rawuh, seperti yang tertulis di sebelahnya. Tapi apa daya, yang ngedesain menu ini hanya serta-merta menggunakan Font berbentuk aksara Jawa tanpa menguasainya, atau memang tidak bisa dibentuk sedemikian rupa.

Saya pun iseng menanyai si karyawan kafe. Ketika datang membawa minuman yang kami pesan, saya pun tanya:

Ini dia mas-mas yang beruntung
kena inspeksi mendadak.
"Mas, bisa baca tulisan ini gak? Terus artinya apa?"
"Waduh, saya tidak bisa, mas. Saya orang Makassar."

Hmmm, beruntung sekali dia orang Makassar. Bagaimana kalau dia orang Jawa seperti saya ini? Eh, jangan salah, banyak yang tidak bisa baca loh tulisan ini....

Baiklah, puas dengan makan-minum-nongkrong di tempat ini, saya pun beranjak kembali ke rumah. Eh, bersiap-siap menuju ke sebuah situs dink. Sampai jumpa....

Fried Chicken Adventure bukanlah merupakan sebuah perjalanan seekor ayam yang telah digoreng. Lebih tepatnya, saya menjadi subjek yang berpetualang untuk mencari ayam goreng. Di Yogyakarta -yang tiap tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk- memiliki segudang tempat untuk memenuhi keluhan perut yang disebut dengan lapar. Salah satunya adalah restoran ayam goreng krispi.

Tentu Anda sudah mengenal, sebuah sistem penjualan yang disebut dengan franchise. Di Yogyakarta ini, ada beberapa franchise yang menjual menu makanan berupa ayam goreng. Kali ini saya akan menyajikan 5 buah franchise ayam goreng kelas menengah ke bawah. Dan dari kelima resto di bawah ini, saya menyisipkan sedikit penilaian subjektif saya tentang resto-resto tersebut. Oh ya, saya hanya memesan menu ayam bagian dada (biasanya sepaket dengan minumannya).

Yogya Chicken

Yogya Chicken atau yang dikenal dengan "Jogcik" memang hanya ada di Yogyakarta (namanya juga Yogya Chicken). Restoran ini sudah memiliki outlet di mana-mana (sepertinya jumlahnya paling banyak di Jogja). Dan dari beberapa informasi yang saya peroleh, Jogcik memiliki tempat penyembelihan dan pembumbuan ayam yang terletak di daerah Pringwulung. Menurut saya, dada ayam di Jogcik ini ukurannya PALING BESAR dibandingkan restoran-restoran yang lain. Satu paket dada ayam goreng, nasi dan teh manis bisa diperoleh dengan harga Rp8.500,00. Dan menurut saya pula, ayam di Jogcik PALING BERBUMBU. Jadi tidak salah kalau saya meletakkan Jogcik sebagai restoran ayam goreng terbaik. Jogcik ada di mana-mana, salah satu outlet yang ramai dikunjungi adalah di Jalan Affandi, Gejayan (sekitar Deresan, agak masuk gang sedikit).

Olive Chicken

Olive merupakan pacar dari Popeye. Saya juga tidak tahu apa kaitan antara Olive dengan ayam goreng, karena setahu saya Olive malah memiliki kaitan dengan bayam. Dibandingkan dengan restoran yang lain, ayam goreng di Olive Chicken ini dibungkus KRISPI PALING ENAK. Butiran-butiran krispinya lebih kecil dan renyah dibandingkan yang lain. Satu paket dada ayam goreng, nasi dan teh manis bisa diperoleh dengan harga Rp7.000,00. Salah satu outlet yang saya kunjungi adalah di Jalan Nyi Tjondroloekito, Monjali (dekat dengan jembatan baru UGM-Sardjito).

Mr. Burger

Walaupun bukan menu utama yang dijajakan di Mr. Burger, restoran (entah apa saya menyebutnya) ini menyiapkan ayam goreng krispi yang rasanya enak. Hanya saja, dari kelima restoran yang ada di sini, Mr. Burger memegang HARGA TERMAHAL. Karena dengan Rp8.500,00, saya hanya mendapatkan ayam dan nasi tanpa minum. Lho, terus minumnya gimana? Di sana juga tersedia kulkas yang berisi minuman, silakan buka kulkas, pilih dan beli minuman yang diinginkan.

Yoyo Chicken

Mengapa disebut dengan Yoyo Chicken? Saya juga kurang begitu tahu. Kalau lihat lambangnya, ada seekor ayam jantan yang sedang memainkan yoyo. Entah apa filosofinya: mungkin seperti yoyo yang bisa suatu saat dimainkan akan kembali lagi, begitu pula konsumen yang makan di sana bisa kembali lagi ke sana untuk makan tentunya. Yang unik dari Yoyo Chicken adalah SAMBAL yang bukan merupakan SAUS seperti yang disediakan keempat restoran lainnya. Tersedia SAMBAL MERAH dan SAMBAL HIJAU yang siap membuka pori-pori keringat Anda. Satu paket dada ayam goreng, nasi dan teh manis bisa diperoleh dengan harga Rp7.500,00. Salah satu outlet yang saya cicipi ada di daerah Tambakboyo, Condongcatur (pasar Condongcatur lurus ke utara).

Popeye Chicken

Sepertinya, Popeye Chicken ada sebelum Olive Chicken. Seperti Olive, menurut saya Popeye lebih identik dengan bayam ketimbang ayam goreng. Rasa ayam gorengnya lumayan lah. Keunikan Popeye Chicken adalah, papan informasi harga yang ada di tembok di atas counternya menggunakan BAHASA INGGRIS, sudah mirip dengan KFC. Satu paket dada ayam goreng, nasi dan teh manis bisa diperoleh dengan harga Rp7.000,00. Salah satu outlet yang kunjungi ada di daerah Papringan (dekat SMA John de Britto).

Sekali lagi, penilaian terhadap kelima restoran di atas berdasarkan pikiran subjektif lidah saya. Sebenarnya masih ada beberapa restoran ayam goreng lagi, seperti Quick Chicken, Jakarta Jakarta, Yakitori Chicken. Tapi saya belum nemu tempatnya. Ada yang tahu?

Saya tidak tahu harus bilang apa, intinya saya KEPEDESAN!!! Setelah sebelumnya pernah membeli Maicih Gurilem Simbok Hadap Depan dan Maicih Level 5, kali ini saya mencoba the Top Hot Kripik Maicih Level 10. Sumpe, kalo yang ini saya makannya merem melek. Anda sudah coba?

Kemarin sore (9/9), sebuah sms yang tentu saya kenal siapa pengirimnya masuk ke handphone saya yang dari jaman kapan tau gak diisi-isi pulsa (saya lagi males isi pulsa ni!) Intinya, si pengirim mengajak saya untuk turut serta dalam acara makan-makan di sebuah resto (bahasa keren dari warung) yang terletak di Jl. Moses Gatotkaca. Namanya adalah Nanamia, sebuah resto yang menyajikan makanan-makanan khas italia. Mau tau apa aja yang kami makan?

Roti panggang dikasih topping
Mirip kwetiauw ditumpuk-tumpuk dikasih daging
Mirip mie ayam, tapi diganti ikan tuna
Salad, seperti pada umumnya
Pizza tipis dengan ikan salmon

Hah!!! Sebanyak itu? Berapa duit?

Untuk urusan harga, memang nonjok dan membuat kantong mahasiswa menjadi kering. Jika di lihat di daftar menu, berikut ini adalah tampilan harganya
Bruschetta 12
Terra Nostra 59
Lasagne Classica 29
Insalata la Marche 20
Spaghetti al Tonno Picante 25
Dua digit di belakang itu tentu dinyatakan dalam satuan ribu rupiah. Selain membeli makanan, tentu kami juga membeli minuman supaya tidak tersedak. Akan tetapi, minumannya yah gitu-gitu aja (yang jus ini lah, milkshake itu lah). Berarti, untuk makan saja kami sudah menghabiskan uang sebesar Rp145.000,00. 

Deal Keren

Eits, tunggu dulu! Berhubung teman saya bernama Lisa telah membeli voucher deal-keren, kamipun bayar dengan setengah harga! Kelima makanan tersebut, ditambah dengan teh hangat untuk ganep-ganep (menggenapi) kami bayar seharga Rp75.000,00 (wah, lumayan betul untuk makan malam, lumayan untuk kantong saya!) Deal keren menjadi salah satu situs yang menawarkan voucher-voucher diskon minimal 50% (busyet!) Apalagi di Yogyakarta yang banyak mahasiswanya, tentu saja yang seperti ini yang banyak dicari-cari. Selain berbagi keuntungan, para produsen juga sekalian mempromosikan produk-produk mereka melalui situs diskon ini.

Ada yang tertarik mencoba?

Lihat foto-fotonya di Facebook.

It's something's eve. Malam ini (07/06) aku bersama Irin pergi ke Musiro - Fusion Korean Food yang terletak di Jalan Affandi / Gejayan 33 Yogyakarta. Dilihat dari namanya pun jelas, bahwa restoran ini menyajikan masakan ala Korea. Lokasi tempat ini juga cukup strategis karena berada di tengah-tengah keramaian kota di samping konter-konter handphone.

Memang restoran atau bisa dibilang kedai ini tampak mungil, tetapi jangan salah -menurut saya- masakannya istimewa. Dengan merogoh kocek kira-kira Rp30.000,00 per orang, saya bisa menikmati hidangan Korea yang unik dan bervariasi. Agak lain di lidah Indonesia, tapi saya merasakan hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada MSG-nya.

Baiklah, berikut ini adalah item-item yang saya beli:

Sundubu Jigae
Sundubu Jigae
Seperti sup Tom Yam yang isinya tofu, telur, kerang, cumi-cumi, sayuran. Disajikan panas-panas dalam mangkuk dan ditemani oleh nasi putih. Rasanya nikmat, agak kecut-kecut asin sedap gimana gitu. Saya menikmati renyahnya seafood, gurihnya telur dan lembutnya tofu dalam Sundubu Jigae ini. Harganya Rp25.000,00 : saya kira cukup pantas, karena bumbu dan topping yang unik dan menarik.

Musiro Gimbab
Musiro Gimbab
Tidak usah banyak cerita, lihat gambar saja sudah tahu. Gimbab mirip dengan sushi Jepang. Hanya saja Gimbab disajikan bersama dengan kuah yang rasanya juga nori (rumput laut) banget. Harganya Rp20.000,00.

Kimchi
Kimchi
Yang agak aneh adalah kimchi ini. Sawi putih yang diberi bumbu-bumbu pedas sekaligus asam. Yah, inilah kimchi: sayur yang diasamkan. Saya tidak familiar dengan makanan ini, tapi ya tetap saya santap dan habiskan. Kimchi merupakan snack ringan yang bisa diperoleh dengan harga Rp2.500,00.

Restoran Korea ini memang belum buka lama. Ketika saya mengetahui bukanya restoran ini, saya belum terlalu tertarik dengan masakannya. Dalam benak saya: pasti mahal harganya. Namun setelah saya demam Korea, saya mencoba untuk menilik kuliner Korea tersebut. Dan ternyata: memang enak dan memuaskan. Saya pun makan dengan lahapnya hingga tak bersisa satu butir nasi. (Lebay!)

Suasana di restoran ini juga Korea banget. Ada semacam papan untuk kertas-kertas asturo yang diberi tanda tangan sekaligus komentar bagi mereka yang ingin mencorat-coret. Ada banyak poster-poster boyband dan girlband Korea seperti: Super Junior, So Nyeo Shi Dae, 2PM, 2AM dan lain-lain. Ada beberapa pernak-pernik Korea sebagai display di belakang kasir. Tidak lupa, lagu-lagu Korea baik film maupun boyband-girlband yang baru naik daun saat ini juga turut menghiasi audio ruangan.

Selesai menikmati makan di Musiro, saya pun membayar apa yang telah saya makan. Kemudian sang pemilik yang ternyata asli Korea menyapa saya dengan berkata: Kamsa-mita! (kalau saya tidak salah tulis)

Senin, 11 April 2011

"Selamat malam, mas mbak?"
"Selamat malam.... Di sini jualan susu sapi kan?"
"Iya betul, silakan."

Suasana tampak hening di bawah langit malam berbintang. Tampak beberapa meja yang disusun rapi, serta siap untuk ditempati oleh pengunjung yang ingin mencicipi susu sapi. Hanya saja, meja-meja itu kosong. Tidak ada seorang pun yang menempatinya kecuali dua pria; yang satu tambun dengan rambut gimbal, dan yang lain kurus berkulit gelap dan berambut pendek. Mereka berdua adalah penjaga di Kafe Susu (KaSus) yang terletak di ringroad utara sayap selatan yang terbentang antara jalan Monjali dan jalan Kaliurang.

Kafe ini lebih mudah diakses tanpa menyeberang dari Jalan Kaliurang. Selain menjual susu sapi dengan segala jenis variannya, kafe ini juga menjual nasi bakar, roti bakar dan bubur. Karena tampak sepi, saya kemudian bertanya kepada pria yang berbadan kurus yang kebetulan melayani kami.

"Mas, kok sepi?"
"Yah, beginilah mas. Terkadang juga rame sekali, terkadang juga sepi tanpa pengunjung."
"Buka dari jam 4 sore yah? Kalau tutup jam berapa?"
"Iya, dari jam 4 sore. Kalau tutup ya bisa pagi sekitar jam 3 an."
"Ada aja yang beli?"
"Iya, terutama hari Rabu, Jumat dan Sabtu ada menu bubur."

Saya menengok ke daftar menu. Di sana ada menu "AD" (After Dugem) berupa bubur ayam yang buka terus hingga pagi menjelang. Saya merasa iba juga, mengapa warung susu sapi ini sepi.

"Apakah kafe ini masih baru?"
"Ya, sekitar satu bulan."

Selain wilayahnya yang menurut saya hanya bisa diakses lewat jalan Kaliurang, di tepi ringroad pula. Rumah yang bertuliskan "Rusli" yang ditempati oleh Kafe Susu ini pun tidak dilengkapi dengan tempat parkir mobil. Alhasil, pelanggan yang datang hanyalah mereka penikmat susu yang menggunakan motor. Karena masih baru, mungkin belum banyak yang kenal dengan Kafe Susu ini.

Daftar Menu

Susu sapi di Kafe ini bisa dibilang cukup nikmat (4/5 stars). Tersaji hangat dan baru, susu sapi biasa disajikan dalam beberapa varian: susu murni, susu cokelat, STMJ, susu kopi, susu sirup, susu madu. Selain menjual susu, kafe ini juga menjual roti bakar aneka rasa seperti cokelat, keju, strawberry, dan selai-selai lainnya. Ada juga mi rebus (Indomie) dan mi rebus korea (saya tidak tahu merknya, tapi sepertinya enak). Kalau dirasa mi instan tidak bergizi, maka kafe ini juga menyajikan nasi bakar biasa dan teri. Untuk menu "After Dugem" (yaitu pukul 00.00 WIB ke atas), tersedia bubur ayam.

Harga

Untuk harga, KaSus tidak mematok harga yang mahal. Menurut saya cukup ramah kantong. Susu sapi murni bisa diperoleh dengan harga Rp3.000,00 (termurah dari beberapa kedai susu yang saya icip), sedangkan untuk susu selain STMJ bisa dibeli dengan harga Rp4.000,00. STMJ mencapai posisi tertinggi dengan harga Rp8.000,00.
Harga makanan:
Nasi bakar : Rp3.500,00
Nasi bakar teri : Rp4.000,00
Roti bakar : rata-rata Rp5.000,00
Bubur ayam : Rp6.000,00

Senin, 21 Maret 2011. Menghitung hari memang membuat saya menjadi sedikit stress. Sepulang dari kesibukan, sedikit menjauhi kepenatan, saya mampir ke sebuah resto sederhana yang terletak tidak jauh dari kota. Kelihatannya memang resto sederhana, tetapi jangan salah, masakan yang disajikannya adalah masakan ala Italia -Pasta. Tidak jauh dari sana, ada kedai sederhana pula yang menyajikan susu "Gajah". Marilah mampir ke jalanan di antara Jalan Palagan dan Jalan Kaliurang. Tidak disangka, ternyata di jalan yang tampaknya tidak terlalu ramai ini bisa dijumpai beberapa objek kuliner yang mengundang selera.

Apa itu Pasta?
Menurut wikipedia berbahasa Indonesia, pasta adalah makanan olahan yang digunakan pada masakan Italia, dibuat dari campuran tepung terigu, air, telur, dan garam yang membentuk adonan yang bisa dibentuk menjadi berbagai variasi ukuran dan bentuk. Pasta dijadikan berbagai hidangan setelah dimasak dengan cara direbus. Di Indonesia, jenis pasta yang populer misalnya spageti, makaroni dan lasagna.

Lokasi Pasta Gio
Pasta Gio terletak di antara Jalan Palagan-Tentara Pelajar dengan Jalan Kaliurang. Untuk mengaksesnya, cukup melewati ringroad utara Jogja di antara jalan Palagan dan jalan Kaliurang. Di sisi utara ringroad, temukan deretan penjual meja dan rak kayu. Di samping para penjual tersebut ada jalan menuju utara. Telusuri jalan hingga menemukan KaliMilk, masih jalan ke utara. Perhatikan selalu bagian kanan jalan, jika bertemu dengan keramaian, berarti Anda sudah hampir tiba di Pasta Gio. Rambu-rambu Pasta Gio terbuat dari bambu (mirip keranjang bunga) yang dibungkus dengan kresek merah. Di dalamnya ada lampu yang menyala, karena Pasta Gio buka sore hari.

Masakan Italia
Yang bisa dipesan di Pasta Gio tiada lain adalah masakan ala Italia, apalagi kalau bukan Pasta Selection. Sore ini, saya memesan Fettucinni a la Carbonara (fettucinni = mirip spaghetty tapi lebih gepeng seperti kweetiau). Fettucinni yang saya pesan ini dilengkapi dengan cream, jamur dan daging sapi (seperti sapi asap yang dipotong persegi panjang tipis-tipis). Sedangkan partner saya memesan Penne a la Cacciatore (penne = bentuknya mirip makroni atau snack "Jet-Z" tetapi lunak) yang dihidangkan dengan daging ayam saus tomat.

Masakan di sini sudah direkomendasikan oleh teman saya sebelumnya. Konon, pemiliknya adalah seseorang yang masih berusia sangat muda. Selain memiliki, dia juga piawai dalam membuat masakan. Siapa lagi kalau bukan "Gio". Jujur, saya belum sempat melihat orangnya, akhirnya malah jadi penasaran sendiri.

Harga
Fettucinni a la Carbonara : Rp22.000,00
Penne a la Cacciatore : Rp21.000,00
Hot lemon tea : Rp5.000,00

Susu Gajah KaliMilk
Sepertinya sudah sempat saya singgung, sebelum menemukan Pasta Gio, Anda bisa menemukan kedai Susu Gajah KaliMilk. Pada awalnya, saya sempat curiga: mengapa dinamai Susu Gajah. Sejak kapan ada gajah yang menghasilkan susu untuk dikomersialkan. Persepsi saya berubah setelah saya menilik ke kedai tersebut. Yang menjadi istilah "Gajah" adalah porsi susu yang segede gajah. Walaupun saya yakin seekor gajah masih dahaga ketika meminumnya, seorang manusia pasti sudah merasa cukup 'eneg' dengan porsi susu segede itu. Tenang saja, susunya berasal dari sapi perah. 

KaliMilk sendiri merupakan singkatan dari Kaliurang Milk. Apakah mungkin sapinya berasal dari Kaliurang, sampai sekarang pun masih tetap misteri. Pelayanan sudah baik, ditambah pilihan olahan susu yang beraneka ragam. Ada yang di jus bersama ini, di jus bersama itu, dicampur ini, dicampur itu. Jadilah macam-macam varian susu yang sungguh menarik nafsu minum.

Sebagai camilan, di sana tersedia roti bakar dan roti goreng. Kalau roti bakar, sepertinya sudah biasa. Kalau roti goreng? Roti goreng tidak lain adalah roti tawar yang diisi dengan macam-macam 'topping', ada yang diisi pisang, cokelat, keju, dan lain sebagainya. Kemudian roti tersebut digulung dan dicelupkan ke dalam tepung yang dipakai untuk membuat risoles. Tampak luar memang seperti risoles, tetapi sekali gigit ... hmmm ... enak luar biasa.

Harga
Harganya pun menurut saya terjangkau. Dengan merogoh kocek sebesar Rp8.000,00 untuk susu ukuran biasa atau Rp15.000,00 untuk susu ukuran gajah maka Anda bisa melegakan dahaga serta memuaskan perut di sana. Roti gorengnya pun terjangkau. Satu porsi roti goreng bisa diperoleh dengan harga lima ribuan.

Tertarik mencoba?

Minggu, 20 Maret 2011 saya bersama Irin diajak jalan sama cece Iin dan koko Richard, keluarga dari Solo. Padahal hari itu kami baru saja pulang dari Ambarawa untuk acara keluarga. Sesampainya di Jogja, sms melayang ke handphone Irin. Ada yang membutuhkan bantuan kami untuk memandu perjalanan menuju Ganjuran.

Karena sudah terlalu sore, tujuan beralih ke Ambarukmo Plaza. Di sana, kami jalan-jalan cuci mata sambil lirak-lirik kanan-kiri, siapa tahu ada copet. Saat itu, di Amplaz sedang ada pameran modifikasi mobil. Mobilnya keren-keren, tapi tidak on the road karena beberapa desain tampak ceper. Kalau kena polisi tidur ya game-over lah. Bukan hanya mobil-mobilnya yang keren, tetapi SPG nya juga keren-keren walaupun tidak satu pun yang membuatku tertarik.

Sepulang dari Amplaz, kami on the way menuju Kedai Tiga Nyonya. Restoran yang bercorak Cina-Belanda-Indonesia ini terletak di dekat Tugu Jogja, kurang lebih tiga puluh meter sebelah timur Tugu. Sepertinya, restoran ini memiliki sejarah yang cukup unik. Dengan penampilan yang sedemikian rupa, saya tidak ragu kalau restoran ini mahal. Beberapa ornamen memang merupakan peninggalan. Kami menempati meja nomor dua, dekat dengan sebuah cermin yang berada di atas meja kuno. Meja tersebut mirip sekali dengan meja yang ada di film-film vampir negeri Tirai Bambu. Di atas meja, terpampang tiga buah patung prajurit Cina (mirip samurai). Ada pula lampion-lampion unik, dan yang pasti foto dari tiga nyonya yang konon mendirikan restoran ini.

Ada harga, ada rupa. Makanan di sini memang bisa dibilang sangat mahal. Meskipun demikian, tidak ada satu pun masakan yang dibumbui dengan MSG. Semuanya murni dari bumbu dapur. Kami memesan masakan ikan, yaitu kerapu dan pindang patin. Ada juga sayur yang mirip dengan sawi, tetapi kriuk-kriuk, terus terang saya lupa apa nama sayuran tersebut. Ditambah daging sapi bumbu kecap, lengkap sudah menu lauk kami malam hari itu.

Yang cukup berkesan di restoran ini adalah faktor pelayanannya. Sebelum makan, kami dijamu dengan ramah. Dengan view bangunan kuno, kedai tiga nyonya menawarkan dekorasi klasik jaman kolonial serta Cina kuno. Masakannya pun bisa dibilang kelas atas, karena yang datang kebanyakan dari kalangan bos. Selesai makan, taplak meja lapisan atas (yang terbuat dari kertas minyak) diganti dengan yang baru. Semuanya tampak higienis dan memuaskan. Semakin puas karena kami tidak merogoh kocek sedikitpun (halah halah...)

Jika Anda memiliki uang lebih, tidak ada salahnya mencicipi masakan di Kedai Tiga Nyonya. Patokannya Tugu Jogja, ke arah timur. Kedai Tiga Nyonya ada di sisi selatan jalan di sebelah Circle-K (kalau belum tutup).

Harga
Saya cuma ingat ikan kerapu yang harganya tujuh puluh ribuan, dan teh manis hangat seharga lima ribuan.


Beberapa mengenalnya dengan angkringan Eks-Asdrafi, yang lain ada yang mengenalnya dengan angkringan nDalem Sompilan. Angkringan ini terletak tidak jauh dari (eks) Pasar Ngasem. Dari Pasar, belok ke arah timur. Kurang lebih 100 meter (pojokan, ada tulisan Bale Raos), belok ke kiri. Maka Anda sampai pada pendopo. Lho, angkringannya mana?

Masuklah ke pendopo itu, maka Anda akan melihat nasi kucing, gorengan, serta beberapa deret jajanan tradisional Jawa. Suasana di angkringan ini memang unik. Bangunan yang digunakan adalah bekas akademi (asdrafi, kayak akademi perfilman gitu). Karena masih berada di sekitar Kraton, bangunan ini menampilkan sisi kolonial. Area makan cukup luas, tampak banyak sekali meja yang terisi penuh pengunjung yang ingin menghabiskan waktunya di angkringan sambil menikmati suasana mistik di sini.

Memang, makanan yang disajikan sangatlah umum. Ada nasi kucing, lauk pauk hingga nasi brongkos. Hanya saja, harganya memang sedikit lebih mahal. Namun, dengan menikmati suasana di tempat ini, Anda tidak akan rugi.

Saya kemari bersama dengan rekan-rekan SRABI. Apa itu SRABI? Nantikan kehadirannya di blog yang akan datang. Di sini, kami menghabiskan waktu untuk ngobrol, serta ber-rendezvous setelah sekian lama hengkang dari dunia tarik suara (bukan menyanyi, tetapi ngobrol). Tak heran, jika memilih lokasi ini adalah opsi yang tepat.

Harga
Nasi kucing Rp2.000,00
Teh hangat Rp2.000,00
Susu hangat Rp3.000,00
Gorengan Rp1.000,00
Sate Rp2.000,00-Rp5.000,00
Nasi brongkos Rp8.000,00
serta harga lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Sepulang dari beraktivitas seharian, saya (kami, ehem) berkunjung ke sebuah cafe di daerah Kotabaru, Yogyakarta. Siapa yang tidak kenal dengan The House of Raminten. Dari luar, sepeda motor dan mobil berjejer memenuhi protokol jalan F.M Noto. Tampak papan reklame besar bertuliskan The House of Raminten, Jamu Oyot Godong (Jamu Akar Daun). Ketika memasuki serambi, saya harus mengantri di belakang sekian banyak pengunjung.

Memang, cafe ini menyajikan suasana Kejawen yang kental. Di sana sini tercium aroma dupa yang cukup kuat. Apalagi di belakang, aroma dupa bercampur dengan entah ramuan apa mirip balsam dan aroma kuda. Di serambi, tampak beberapa andong (kereta kuda) tanpa kuda sedang parkir serta bertuliskan : hanya bisa dinaiki hari Minggu Wage. (Jangan-jangan selain hari itu keramat, alias ada yang nungguin). Bangunan yang digunakan oleh cafe ini adalah bangunan kuno yang masih terawat, kemudian direnovasi sedemikian rupa sehingga ada beberapa tingkat yang cukup kokoh untuk tempat duduk.


Tidak berapa lama, saya diundang masuk untuk duduk di seat berdua. Saya takjub melihat harga minuman lebih mahal dari harga makanannya. Sego kucing single tanpa telur tertulis seharga Rp1.000,00 sedangkan teh manis yang saya pikir minuman termurah malah harganya Rp3.000,00. Kemudian saya memesan nasi kucing dan susu. Alamak!!! Sajian susunya aja ditempatkan di gelas yang mirip 'susu'.


Yah, tempat ini bukan hanya untuk makan dan minum saja, tetapi juga layak ditempati sebagai tempat nongkrong. Bagi saya, kursi rotan yang saya duduki itu sangat nyaman. Enak buat tidur-tiduran. Yang menjadi sedikit gangguan adalah lamanya penyajian makanan. Bisa dimaklumi karena pengunjung The House of Raminten sangatlah banyak. Ditambah lagi di luar tertulis: seluruh karyawan adalah lulusan 'SLB' jadi harap dimaklumi kalau pelayanannya lama karena pada dasarnya mereka adalah orang kenthir (gila???). Walaupun demikian, hal itu tidak menjadi masalah ketika saya bisa duduk nyaman di kursi rotan itu.


Saya tergelitik dengan perawatan tubuh dengan ramuan tradisional khusus pria. Apakah ini? Kemudian saya tanyakan kepada karyawan di sana. Ternyata memang mirip dengan pijat, hanya saja dibumbui dengan ramuan-ramuan tradisional. Harganya bisa mencapai Rp250.000,00. Ah, nanti saja lah. Kebetulan juga tempat ini sedang direnovasi. Jadi kesimpulannya, saya tidak perlu repot-repot keluar duit untuk perawatan tubuh khusus pria ini.

Minuman di sini cukup unik, sepertinya memang khusus jamu-jamu dengan nama-nama yang aneh-aneh. Harganya antara Rp5.000,00 - Rp15.000,00 serta porsinya gede-gede. Gelasnya ada yang tinggi, ada yang seukuran batok kelapa dan ada yang bentuknya mirip 'susu' tadi.

Pemilik dari The House of Raminten adalah seorang pengusaha sukses yang pula menjadi pemilik Mirota group (Batik, Swalayan, Bakery) yang bernama bapak Hamzah Hendro Sutikno. Entah karena gagasan apa, konsep The House of Raminten dan Mirota Batik identik dengan situasi kejawen yang cukup kental. Tempat-tempat semacam inilah yang cocok dijadikan tujuan wisata kuliner baik bagi penduduk lokal Yogyakarta maupun pendatang dari luar kota.

Sumber foto: inijie.com 
author
Yacob Ivan
Indonesian, Mathematician, Business Analyst, Android Developer, History-traveller | http://www.yacob-ivan.com