Gedebus dan teman-teman kecilnya Sebuah catatan, ulasan dan ideologi.

Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Hari Minggu lalu (1/4/2012), memang baru saja terjadi ribut-ribut seputar kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Walaupun mengikuti perkembangannya, saya enggan untuk ikut berunjuk rasa karena tokh apa pun hasilnya tentu tidak pernah memuaskan. Nah, kita nggak perlu ribut-ribut soal ini. Apalagi di hari itu, keluarga kami harus berangkat ke makam kakek dan nenek untuk merayakan Ceng Beng.

Apa itu Ceng Beng?

Menurut wikipedia, Ceng Beng merupakan salah satu tradisi Cina untuk berziarah ke makam nenek moyang. Yah, mirip tradisi Nyadran kalo di Jawa sini. Kalau dulu-dulu, ketika saya masih kecil. Bagian yang disisakan untuk para cucu-cucu adalah memetik mahkota-mahkota bunga mawar dari pangkalnya sebelum ditaburkan. Selain itu, bagian yang mengasyikkan lainnya adalah membakar uang! (Lho, sayang dong?) Tentu saja bukan uang sungguhan, melainkan 'uang akhirat'. Katanya, uang-uang ini diyakini akan sampai di tempat penantian nenek moyang kita. Pada awal Ceng Beng, ikut dibakar juga rumah-rumahan sebagai rumah, serta orang-orangan untuk dijadikan 'pembantu' di dunia sana. Hmmm, lucu juga ya tradisi ini. Gambar di atas merupakan 'merk' dari uang-uangan yang dibakar tersebut.

Kalau emang tradisi bakar-bakaran ini boleh dimodifikasi, saya ingin ikut membakar apartemen atau rumah kos-kosan. Lumayan lah, untuk investasi di dunia sana. Selain bakar-bakaran, tentu kita semua harus sembahyang (dengan cara masing-masing) untuk menghormati roh-roh leluhur yang telah mendahului dan menurunkan kita; barulah setelah itu kami makan-makan bersama di pelataran makam. Ceng Beng juga menjadi salah satu festival untuk mengumpulkan keluarga selain festival-festival Tionghoa lainnya (seperti Imlek, Cap Go Meh, Bakcang, Ronde, dan lain-lain).

Dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan: akankah tradisi ini akan berlanjut untuk keturunan-keturunan saya kelak? Hmm, nggak usah jauh-jauh: ngomong, nulis, baca bahasa Mandarin saja nggak bisa. Setidaknya, saya nggak lupa dengan festival-festival semacam ini. Selain unik, acara-acara semacam ini dapat dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga besar. Apalagi nanti kalau sudah berada jauh.

Beruntunglah Anda bila sedang berwisata ke kota Jogja pada tanggal 2 - 6 Februari 2012. Karena selain ada Sekaten (Grebeg Maulud Nabi Muhammad) yang diselenggarakan di alun-alun utara, Jogja juga menggelar acara Pekan Budaya Tiong Hoa 2012. Jogja memang dikenal sebagai kota yang multi kultural, dan Tiong Hoa menjadi salah satu etnis yang tinggal di kawasan Ketandan, nama salah satu kampung di Malioboro. Untuk itu, Ketandan disulap menjadi satu kawasan bernuansa China yang memamerkan budaya-budaya Tiong Hoa. Festival ini diselenggarakan sekaligus untuk memperingati Tahun Baru Imlek yang belum lama berlangsung, serta menyambut Hari Raya Cap Go Meh. Pekan Budaya ini merupakan kali ketujuh diselenggarakan di Jogja.

Gerbang festival di Ketandan Malioboro.
Ada banyak sekali acara yang akan ditampilkan pada festival ini. Selain penampilan Liong dan Barongsai, Anda bisa menikmati pagelaran yang lain seperti: tari-tarian China, wushu, musik (karaoke, koor, band), mini operet,  dan panggung boneka. Selain pagelaran bernuansa China, tentu tidak luput dari sentuhan Jawa. Acara ini juga berkolaborasi dengan ketoprak, kesenian Lampung, kaligrafi, sholawat, kesenian Melayu dan lain-lain.

Selain itu, pengunjung juga mencicipi kuliner ala China di bazar-bazar yang dibuka untuk umum di sepanjang jalan Ketandan. Ups, pengunjung harus pilih-pilih makanan loh karena tradisi China tidak memilih-milih jenis makanan yang dimakan. Tapi bagi pengunjung yang ingin menikmati, ada pilihan makanan yang tentu boleh dimakan seperti yang saya makan ini: bakcang ayam (yang seharusnya menggunakan daging babi). Acara ini juga dimeriahkan oleh atraksi sulap Demian, serta penampilan dari beberapa sekolah di Jogja.

Bagaimana? Anda tertarik pergi ke Jogja saat ini?


Liong dan Barongsai.
Panggung Boneka.
Wuidih, ramenya (klik pada foto ini untuk melihat foto-foto lain di Facebook).
[]

Bulatan-bulatan berwarna merah dan putih, disantap bersama hangatnya kuah jahe, kacang dan kolang-kaling. Dinginnya malam serasa tertutup oleh semangkuk ronde yang tersaji di meja, ditambah dengan kehangatan kumpul bersama keluarga kecil.

Dongzhi Festival - Satu Tahun Kepergian Nyama
Sembahyang Ronde dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2011 yang lalu, satu tahun lebih sehari sejak kepulangan nyama ke pangkuan Bapa. Jika perayaan ini seharusnya dirayakan dengan jamuan bersama keluarga, yang jatuh pada hari terpendek dalam tahun Cina (Dongzhi Festival), maka kali ini arti dari perayaan ini kami geser sedikit: mengenang nyama dan berdoa untuknya.

Mengapa kami mengenang nyama? Ketika nyama masih sehat, dia tidak pernah lupa akan festival-festival tahunan Cina. Mulai dari tahun baru, bakcang, ronde, tjong tjiu pia, dan lain-lain. Salah satunya adalah sembahyang ronde. Kalau sudah tiba saatnya, dapur tidak mungkin sepi. Satu persatu ronde disajikan di meja makan dan disantap bersama dengan keluarga besar. Namun apakah tradisi ini akan hilang seiring dengan berjalannya waktu?

Empat mangkuk ronde yang tersaji di meja -malam itu- disantap bersama: saya, Irin, mama, dan Olin. Semoga rekatnya tali persaudaraan ini tidak akan terlupa, sama seperti kenyal dan lengketnya ronde yang tiap tahun dirayakan.

Memperingati satu abad Sri Sultan Hamengkubuwono IX, PT Buka Buku Production menggelar Grebeg Buku #3. Pameran buku yang diadakan selama seminggu ini diikuti oleh 55 stan dari tiga ratusan penerbit nasional. Tidak hanya buku yang digrebeg, tapi ada juga benda-benda pengetahuan, vcd dan dvd edukasi maupun film bahkan baju-baju juga dijual di sana. Di bagian luar, ada stan-stan UMKM yang menyajikan makanan dan minuman.

Selama pameran berlangsung, panitia juga mengadakan berbagai acara. Seperti Rebutan Gunungan Buku, Sarasehan Keteladanan Sri Sultan HB ke-IX, diskusi budaya, pentas dan apresisai sastra dan teater, gathering Gusdurian, gathering komunitas, nembang macapat, lomba dongeng, lomba menggambar dan mewarnai, parade band, seminar, talkshow, dan bedah buku berbagai penerbit. (Sumber: radarjogja)

Ini pengarangnya yach?
Ketika saya bertandang ke sana, ada keramaian tampak di dekat stan UMKM. Eh, ternyata baru ada talkshow dan bedah buku terlaris tahun 2011: Poconggg juga Poconggg. Sepertinya seru nih, tapi sayang kursinya penuh: dipenuhi oleh kaum hawa, yang tergila-gila dengan Poconggg. Untung saya sudah baca buku ini, emmm, isinya menarik, gokil dan menghibur. Baiklah, setelah melihat keramaian itu, saya pun masuk dan menikmati beberapa stan buku di dalamnya, ehem, tanpa membeli satu buku pun. Sebenernya ada satu buku yang aku targetin, isinya tentang sejarah. Tapi sayang, aku belum ambil duit. Jadi mungkin besok atau hari terakhir saya coba ke sana lagi.

Seorang pengunjung sedang memilih buku.
Sepertinya ini yang aku incar.
Stan-stan UMKM di luar area Grebeg Buku.

Penasaran kan? Mampir ke sini ni di Gedung Wanitatama deket Saphire Square, tanggal 5 Januari 2012 besok udah kelar loh....


Saya baru tahu ada acara besar kayak gini! Bermula dari ajakan seorang teman yang menjadi volunteer acara ini, Biennale Jogja XI, melalui Facebook. Hah!? Sudah yang kesebelas!! Itulah mengapa saya baru tahu ada acara pameran seni rupa yang paling berpengaruh di Indonesia ini.

Biennale Jogja XI adalah seri pertama dari rencana perjalanan Biennale Jogja mengelilingi khatulistiwa dalam 10 tahun ke depan. Dalam setiap pelaksanaannya, Biennale Jogja akan secara intim bertemu dan berdialog dengan salah satu negara di wilayah khatulistiwa antara 23,27 derajad Lintang utara dan Lintang Selatan. Shadow Lines: Indonesia meets India, judul Biennale Jogja XI, merupakan pertemuan khusus antara Indonesia dan india, akan membicarakan isu penting yang mengemuka di antara kedua negara ini: religiositas, spiritualitas, dan kepercayaan (Panduan Singkat Biennale Jogja XI - Equator#1. Shadow Lines: Indonesia Meets India).

Pameran yang diadakan di Jogja National Museum ini menampilkan karya-karya terbaik dari 40 seniman: 25 seniman Indonesia dan 15 seniman India. Acara ini dikuratori oleh dua orang kurator: Alia Swastika dari Indonesia dan Suman Gopinath dari India. Sesuai dengan tema yang diusung oleh Biennale Jogja XI, hasil seni rupa yang ditampilkan di sini menggambarkan kehidupan religiositas dan spiritualitas kedua negara. Selain pameran seni, ditayangkan pula beberapa tayangan visual (film). Acara lain yang mengiringi pameran ini adalah Festival Equator dan Parallel Events yang diadakan di beberapa tempat, mulai tanggal 26 November 2011 sampai 8 Januari 2012 yang akan datang.

Lihat beberapa foto-fotonya di link ini: [Event] Biennale Jogja XI - Equator#1

Jumat (21/10) merupakan hari istimewa bagi orang-orang Dayak yang tinggal di Yogyakarta. Hampir seluruh orang Dayak berkumpul untuk merayakan Gawai Dayak sekaligus mengobati rasa rindu akan kampung halamannya. Melalui festival tarian kreasi, mereka mengajak saudara-saudari mereka serta khalayak umum untuk menikmati tradisi salah satu etnis di Indonesia yang memiliki rupa-rupa keunikan.

Festival ini dilaksanakan di Taman Budaya Yogyakarta. Di tahun 2011, festival ini sudah yang kesembilan kalinya diadakan. Jika festival ini hanya diadakan untuk Kalimantan Barat pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini diadakan untuk seluruh Kalimantan.

Saya dan teman-teman menghadiri acara ini. Keramaian tampak pada malam kedua, karena kesebelas peserta tarian kreasi saling unjuk gigi menunjukkan tarian subetnis mereka yang telah dilatih beberapa bulan sebelumnya. Dari sebelas itu, akan dipilih satu tim terbaik untuk dianugerahi piala bergilir. Wow, menarik bukan? Saya puas melihat para penari itu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya mengikuti irama musik khas Dayak. Mereka tidak sebarang menari, seluruh rangkaian tarian mereka dikreasikan sesuai dengan tema yang mereka angkat dari kehidupan sehari-hari, seperti memanen padi, membajak sawah, memetik madu hutan, dan lain-lain.

Saya cuma ingat ini: ... kajubata ... auuuu ... (entah apa artinya?)

Lihat-lihat

Pintu masuk acara Gawai Dayak di Taman Budaya Yogyakarta
Salah satu stand pameran Dayak
Membajak sawah
Arca Gopala berjaga di pintu gerbang (asli) Candi Plaosan Lor

Pagi ini (14/7) cukup terik, namun awan mendung mulai datang dari selatan. Saya terbangun untuk melakukan aktivitasku hari ini. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa saya akan mengunjungi beberapa candi di sekitar Yogyakarta sebelum saya diperbolehkan kakak saya Erwin untuk menggunakan kameranya. Saya langsung memanaskan motor saya dan berangkat menuju ke Candi Plaosan.

Candi Plaosan Kidul
Matahari belum beranjak di atas kepala saya ketika saya tiba di pelataran candi. Dengan kamera yang saya pinjam, saya mulai mengambil gambar Candi Plaosan Kidul yang terletak di sebelah selatan Plaosan Lor. Beberapa saya ambil gambarnya, walaupun masih tampak seperti reruntuhan yang sulit untuk disusun ulang. Tidak lama dari tempat ini, saya bergegas menuju ke Candi Plaosan Lor yang tampak lebih besar.

Candi Plaosan Lor
Di sana, saya berkelana untuk mengambil gambar selagi belum ada orang. Sebelumnya, saya memang pernah mampir ke sini. Hanya saja, saya belum mendapatkan foto-foto candi utamanya. Di sini, ada empat bagian utama selain reruntuhan yang belum terselamatkan, antara lain: dua candi utama (kembar), satu panggung dikelilingi arca Buddha, dan bangunan parit di sisi candi. Saya juga mencoba masuk candi utama untuk melihat bagian dalam candi, yang ternyata mirip dengan Candi Sari yang berlokasi tidak jauh dari Prambanan pula. Mungkin, masa renovasi pasca gempa candi ini sudah berakhir. Tidak tampak bambu-bambu penyangga candi untuk membantu proses renovasi, sehingga saya dapat dengan bebas mengambil gambar di sana.

Rombongan Buddhist dari Vihara Mendut
Tak lama setelahnya, sebuah bus datang dengan rombongan Buddhist. Mereka -yang kemudian saya ketahui berasal dari vihara Mendut- datang dengan berbalut kain ala Buddha. Seraya mengatakan Amitabha, mereka memulai acara ziarah rohani mereka di tempat ini sambil menikmati keajaiban peninggalan Buddha di masa lalu. Salah seorang wanita tua di sana saya ajak bicara, untuk apa mereka semua ada di sini. Saya mendapatkan informasi bahwa mereka sedang melakukan ziarah rohani, diakhiri dengan melakukan dharmayatra (kalau saya tidak salah dengar) yang puncaknya dilaksanakan keesokan harinya (15/7) di Candi Mendut, Kabupaten Magelang. Tampak dalam gambar, seorang biksu kepala membimbing para buddhist yang lainnya menuju candi utama Plaosan Lor. Selain memimpin dalam doa, beliau juga memberikan informasi seputar candi-candi Buddha kepada para buddhist yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia dan seorang dari Prancis.

Melepas sandal: menghormati tempat suci
Saya sungguh beruntung hari ini. Oleh suara hati, saya diarahkan kembali ke candi ini walaupun berbeda dari tujuan semula -mengambil gambar-. Saat itu, saya menikmati pengalaman baru melihat saudara saya beragama Buddha datang ke sebuah candi untuk beribadah.

Demikian perjalanan saya di Candi Plaosan. Setelah itu, saya pergi menuju reruntuhan Candi Gana yang terletak tidak jauh dari Plaosan.
Di saat-saat menjelang tahun baru, ada beberapa peristiwa yang saya alami. Beberapa itu mungkin bisa diceritakan dalam beberapa sekuel. Beberapa sekuel itu mungkin bisa ditulis dalam notes ini. Cerita bermula dalam perjalanan pulang menuju kota Harapan, yaitu Magelang.

  1. Chapter 1 -Way to Home-

    Hari Kamis 11 Februari 2010 adalah sebenarnya hari di mana saya berjanji kepada mamah untuk pulang ke rumah. Berhubung ada kesibukan hari itu, akhirnya saya beranjak pulang menuju rumah bersama Kepik Tempur pukul 20.00 WIB alias jam delapan malam. Hawa dingin terasa memenuhi seluruh badan. Hanya dengan berbekal uang Rp50.000,00 saya pulang ke rumah dengan mata sedikit sayup-sayup menahan kantuk. Akhirnya saya berpikir untuk menghitung sesuatu yang bisa dihitung dari kos (rumah kontrakan) sampai rumah.

    Saya memutuskan untuk menghitung lampu lalu lintas yang tersebar di jalan protokol Jogja-Magelang yang tentu saja terbentang dari kos sampai rumah. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam (nggak mungkin dink, soalnya pas satu jam saya sampai di rumah), saya meniti karir di Jalan Magelang km. ... untuk menghitung berapa hiasan sekaligus aturan kota-kota yang akrab dipanggil dengan bangjo itu. Ternyata, ada 13 buah bangjo yang saya lewati hingga tiba di rumah dengan selamat malam itu. 4 di antaranya saya harus berhenti karena bangjo menyala merah dengan ganasnya.

    Sesampainya di rumah, saya bercerita kepada adik saya yang ada di rumah. Saya memberitahu dia kalau saya telah melewati 13 rintangan yang ada di sepanjang jalan kos hingga rumah sehingga saya bisa tiba di rumah dengan kondisi tanpa kurang suatu apa pun (kayak pidato aja). Berhubung ngantuk, tak lama setelah menikmati hidangan malam saya pun tidur.
  2. Chapter 2 -Road to Semarang-

    Keesokan harinya, tanggal 12 Februari 2010 tentunya adalah hari bersih-bersih rumah. Hal ini mungkin terpaksa keluarga kami lakukan karena rumah akan ditinggal sendiri selama kurang lebih tiga hari ke Semarang. Dan betul, sekitar jam dua siang kami meninggalkan rumah ini menuju ke Semarang via Temanggung dulu. Lho, kok lewat Temanggung? Karena mama sekalian mau nganter jahitan di Parakan buat acara nikahan orang.

    Sesampainya di Parakan, tentu saja kami harus bertanya kepada penduduk sekitar tentang rumah yang akan dituju. Dari SMS, mama hanya diancer-anceri untuk belok di tikungan pertama ke kiri setelah terowongan sebelum masuk kota Parakan. Kami pun akhirnya menemukan tikungan kecil menuju ke TKP. Selanjutnya untuk memastikan rumah pemilik baju itu sesungguhnya, kami pun harus bertanya kepada penduduk sekitar. Dari depan hingga lapangan kecil di tengah perumahan itu, tidak ada satu pun orang yang kelihatan batang kumisnya. Hanya ternyata ada satu orang yang berdiri di tengah lapangan. Ngapain? Yang jelas dia tidak berkhotbah di sana, tetapi membersihkan taman itu dengan sapu yang berbentuk mirip dengan Nimbus milik Harry Potter.

    Saya disuruh bertanya sama orang itu. Kemudian saya turun dari mobil dan menghampiri orang itu.

    "Pagi pak, boleh saya bertanya? Rumah Pak M*** di mana ya?" tanya saya.
    "Oh yang kecil itu? Coba tanya Pak A*****," jawabnya.

    Karena saya agak kurang dong maksudnya apa, saya bertanya lagi...

    "Itu loh, Pak M*** rumahnya di mana? Sepertinya di daerah sini." tanya saya lagi.
    "Iya, yang kecil itu kan? Coba tanya Pak A***** di sana," jawabnya.

    Itu juga sebenarnya saya menduga-duga omongan orang itu, karena omongan orang itu sepertinya tidak begitu jelas. Akhirnya saya kembali ke mobil dan berkata, 'Mah, orang itu ndak tahu rumahnya Pak M***. Sepertinya budeg (mohon maaf). Tak lama, SMS dari pemilik baju itu datang, katanya rumah dengan nomor 38. Dan ternyata betul, rumah itu tidak jauh dari lapangan kecil di tengah perumahan itu. Usut boleh usut, ternyata orang tadi benar-benar tuli total. (Haha, emang ada ya tuli parsial). Saya jadi merasa bersyukur karena diberi kelengkapan anggota badan dan saraf sehingga saya masih bisa menulis notes ini.

    Transaksi pun terjadi, sehingga kami pun melanjutkan perjalanan dengan makan siang di rumah makan aneh bernama Sari Ayam. Mengapa aneh? Karena saya baru tahu kalau pajak pembangunan itu tertulis di nota dan bukannya menambah biaya yang harus kami keluarkan tetapi malah menguranginya. Gimana enggak, dengan makan soto dan minuman, harusnya kami membayar Rp55.500,00. Kemudian dengan pajak Rp4.000,00 yang tertulis di bawah jumlah harga, bukannya seharusnya Rp59.500,00 malah Rp49.500,00. Dapet korting sepuluh ribu rupiah.

    Selesai bertransaksi aneh itu, kami meneruskan perjalanan ke Semarang lewat Pringsurat. Hari itu mendung dan turunlah hujan. Karena kami naik mobil, kami tidak kehujanan. Tenang saja.
  3. Chapter 3 -Semawis I-

    Seperti biasanya, kalau ke Semarang, mama selalu pingin ke Semawis. Di lain notes, saya akan menceritakan lebih lanjut tentang Semawis ini (menurut Peta Lokasi Semawis yang saya temukan di meja di dekat klenteng Tay Kak Sie gang Lombok. Yang menarik bagi saya malam ini adalah sebuah Stan bertuliskan "Ramalan Jodoh, Peruntungan, Hong Shui, dll (tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena lupa apa aja yang tertulis di sana) hanya dengan melihat wajah." Sepertinya menarik. Di dalamnya ada om om yang sudah cukup usia dan juga ada customer yang datang untuk mencoba mengetahui nasibnya. Stan yang berwarna merah dan dihiasi tulisan serta sedikit ornamen itu memang terlihat dari luar. Tampak pula kotak yang ada lubangnya dan ada tulisan "Sukarela". Orang itu sepertinya memang orang baik (mungkin aliran Tao) yang bisa melihat kedalaman hati orang lain.

    Berhubung saya orang yang mungkin tidak baik, saya langsung ngomong sama mama.

    "Mah, liat yuk om yang ngramal itu."
    "Nopo to?"
    "Itu lho, ada kotak Sukarela."
    "Lha terus napa?"
    "Haha, nek kita ngasih cuma lima ribu mungkin ramalane kurang bagus. Nek kita ngasih lima puluh ribu mungkin ramalane yang bagus bagus."
    "Misale gini, ada orang dateng trus ngasih Rp5.000,00. Om'e tadi terus bilang,'hmmm, kayaknya besok kamu kesandung kucing lewat, habis itu kepleset sapu di pinggir jalan.' Berhubung dengar yang sepertinya gak memuaskan, akhirnya orang itu ngasi uang Rp50.000,00. Terus om'e tadi bilang gini,'sek sek bentar dulu, kayake gak jadi sial. Kalo lewat jalan lain bakal nemu duit bla bla bla...'."
    "Ngawur ik..."

    Hahaha ngawur aja.
  4. Chapter 4 -Makan makan-

    Menu apa aja yang dimakan?
    -Ayam goreng
    -Bakso
    -Pangsit goreng
    -Ca kangkung
    -Mihun kecap jamur
    -Sop Hisit
    -Ca putih telur pete
    Semua bikinan sendiri, dengan tiga piring saya bisa menyantap makanan itu semua.
  5. Chapter 5 -Semawis II-

    Kok dua kali ya pergi ke Semawis? Yang kedua ini lebih rame soalnya kedatengan tante dari Magelang. Menyambut Imlek, lokasi di Semawis ini memang sudah didekorasi sedemikian rupa untuk pameran-pameran Imlek. Dekorasi dengan panggung berbentuk kapal ini sudah ada sejak tanggal 10 Februari. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi termasuk di dalam klenteng.

    Di sana, kita bisa menikmati sajian makanan ala negeri Tirai Bambu seperti Dim Sum, Siomay, Sate B2, sampai pisang gepeng, jamur krispi dan minuman miecool yang bersifat umum. Selain stan makanan, ada juga karaoke. Di sana saya mendengar lagu dangdut sedang diputar, dan ada om tante yang menari-nari.

    Mulai dari tanggal pembukaan pameran hingga terakhir hari ini, ada pameran tentang Gusdur dan kaum Tiong Hoa.

    Di sisi lain di gang Lombok, ada pameran berhiaskan panggung kapal. Acara pameran ini disponsori oleh salah satu perusahaan rokok ternama di Indonesia. Saya malah bertemu teman lama saya waktu SMP dulu. Dia jadi freelance di Tolak Angin yang turut membuka stan di pameran itu. Tidak lupa saya dan adik saya mengambil gambar di sana.

    Salah satunya di dalam klenteng. Ada seorang bikhuni yang menyanyi lagu TiongHoa dan membunyikan gong kecil. Orang itu menyanyikan lagu untuk menarik perhatian pengunjung klenteng. Tampak ada yang melakukan ibadah, ada yang berfoto di beberapa sudut klenteng. Ketika masuk, tampaklah arca Buddha Gautama dengan hiasan oriental di sana-sini. Di depan altar itu, ada tempat untuk meletakkan dupa (yongsoa). Kemudian di sisi kiri, ada lilin-lilin yang sengaja dikomersialkan untuk ibadah. SUasana merah oriental mewarnai malam tahun baru Imlek di klenteng dan pameran.

    Seperti biasa, malam tahun baru disambut dengan hujan yang konon membawa rejeki di tahun macan. Akan tetapi, hujan tidak menghalangi pengunjung yang datang ke sana. Semakin larut, pengunjung yang bukan berkeyakinan Kong Hu Cu mulai pulang. Ada pula yang baru datang untuk melakukan ibadah sembahyangan di Klenteng menyambut tahun baru Cina itu.
Demikianlah sedikit cerita tentang Tahun Baru Imlek 2561 yang saya alami di sini. Moga-moga tahun yang baru ini mendatangkan rejeki dan pertobatan buat saya. Amin.

author
Yacob Ivan
Indonesian, Mathematician, Business Analyst, Android Developer, History-traveller | http://www.yacob-ivan.com